bahkan aku belum sampai di perbatasan
saat kau kirimkan sekumpulan mendung berbuah hujan
inikah cara kau menyambut kedatangan seorang kawan?
wajahmu, Pinrang, adalah wajah raja yang pulang dari tanah pengasingan
truk-truk pasir, pick-up pengangkut itik, salak, dan udang
juga orang sekarat dalam angkutan kota
apa lagi yang akan aku temukan?
aku sendirian di lapangan kota
lelaki-lelaki bersepak takraw di dekat ayunan dan perosotan
tubuh mereka yang kekar berubah lentur saat bersalto
dan nenek itu
kesulitan memahami kata-kata cucunya yang terlalu Jakarta
aku sendirian di lapangan kota,
bersama sedikit uang dan selembar foto kekasihku di saku
bekal itu sudah cukup
untuk menyesap segelas es teler yang tak terlalu istimewa
dan menolak godaan gadis-gadis yang pintar berdandan
mirip penghuni papan iklan
di wajahmu, Pinrang, apakah yang akan berubah ketika aku kembali nanti?
Pinrang, Juli 09
--sajak ini sepaket dengan sajak-sajak yang saya tulis selama melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN) di Kabupaten Pinrang. terselip di catatan facebook dan baru sekarang saya ingat untuk mempostingnya di blog ini.
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 17 September 2009
Minggu, 05 Juli 2009
Basket
hanya ada sebuah bola
itu pun merah pudar warnanya
dan lapangan basket kecil di halaman smp kecamatan
kau kejar bola itu
aku kejar bola yang sama
kita saling kejar, saling buru
beradu siapa yang mampu melompat paling tinggi
dan mencetak angka lebih dulu
hanya ada sebuah bola
itu pun merah pudar warnanya
menggelinding dan melenting di antara keringat
dan nafas kita yang membakar
kita berkerumun pada satu tiang ring
berebut menggapai lingkaran besinya yang tak lagi berjaring
di ujung lain, ada tiang ring yang lain
sepasang tiang ring itu berdiri sejarak garis lapangan
saling hadap dan menatap lama sejak smp ini didirikan
aku membayangkan, saat tak ada satu manusia pun,
kedua tiang ring itu bertemu
dan berpelukan tepat di tengah lapangan
hanya ada sebuah bola
itu pun merah pudar warnanya
matahari bersembunyi di balik papan ring
sebelum mekar dan kemudian hilang
ditelan atap sekolah
dan setelah puluhan lompatan,
belasan pantulan, serta satu dua liukan,
akhirnya aku kau kalahkan
ah, bola itu bundar, kawan
bola itu bundar
Pinrang, Juli 09
itu pun merah pudar warnanya
dan lapangan basket kecil di halaman smp kecamatan
kau kejar bola itu
aku kejar bola yang sama
kita saling kejar, saling buru
beradu siapa yang mampu melompat paling tinggi
dan mencetak angka lebih dulu
hanya ada sebuah bola
itu pun merah pudar warnanya
menggelinding dan melenting di antara keringat
dan nafas kita yang membakar
kita berkerumun pada satu tiang ring
berebut menggapai lingkaran besinya yang tak lagi berjaring
di ujung lain, ada tiang ring yang lain
sepasang tiang ring itu berdiri sejarak garis lapangan
saling hadap dan menatap lama sejak smp ini didirikan
aku membayangkan, saat tak ada satu manusia pun,
kedua tiang ring itu bertemu
dan berpelukan tepat di tengah lapangan
hanya ada sebuah bola
itu pun merah pudar warnanya
matahari bersembunyi di balik papan ring
sebelum mekar dan kemudian hilang
ditelan atap sekolah
dan setelah puluhan lompatan,
belasan pantulan, serta satu dua liukan,
akhirnya aku kau kalahkan
ah, bola itu bundar, kawan
bola itu bundar
Pinrang, Juli 09
Di Pantai Kappe
:Fajriah
seekor anjing kerdil mengguguk kepadaku di bibir pantai pasir yang hitam
sebentar kemudian anjing itu berlari-lari memamerkan punggungnya yang berwarna matahari kesore-sorean.
seorang lelaki menyeret jala sampai ke ujung dermaga
pinggulnya hilang ditelan ombak rumput laut perlahan-lahan
punggungnya ditimbuni cahaya yang muncrat dari sekumpulan awan.
langit sedang retak, sayang
tepat sebelum malam, jiwaku lamur bersama kangen dan separuh teluk yang terpotong kabut.
Pinrang, Juni 09
seekor anjing kerdil mengguguk kepadaku di bibir pantai pasir yang hitam
sebentar kemudian anjing itu berlari-lari memamerkan punggungnya yang berwarna matahari kesore-sorean.
seorang lelaki menyeret jala sampai ke ujung dermaga
pinggulnya hilang ditelan ombak rumput laut perlahan-lahan
punggungnya ditimbuni cahaya yang muncrat dari sekumpulan awan.
langit sedang retak, sayang
tepat sebelum malam, jiwaku lamur bersama kangen dan separuh teluk yang terpotong kabut.
Pinrang, Juni 09
Di Muara Sungai Saddang
Perahu penyeberangan ini kadang oleng dan berguncang
Tidak hanya sekali atau dua, baling-baling mesinnya menggunting dasar sungai berpasir terang
"Tidak akan ada yang tercebur sebelum perahu sampai ke seberang," berkata juru mudi
suaranya dalam dan tenang
Sementara muara sungai Saddang sedang surut di wajah para penumpang
Mungkin dia tahu hanya aku yang sendiri
Mungkin dia tahu hanya aku yang ketakutan.
Pinrang, Juni 09
Tidak hanya sekali atau dua, baling-baling mesinnya menggunting dasar sungai berpasir terang
"Tidak akan ada yang tercebur sebelum perahu sampai ke seberang," berkata juru mudi
suaranya dalam dan tenang
Sementara muara sungai Saddang sedang surut di wajah para penumpang
Mungkin dia tahu hanya aku yang sendiri
Mungkin dia tahu hanya aku yang ketakutan.
Pinrang, Juni 09
Minggu, 07 Juni 2009
Alasan Mengapa Aku Datang Terlambat ke Rumahmu Malam Itu
Sebab langit belum berhenti menelurkan hujan
lalu menularkannya ke halaman.
Halaman hanya punya satu selokan.
Selokan tersumbat, halaman berubah jadi danau genangan hujan
Di teras rumah berlantai dua itu, aku duduk di anak tangga kedua dari bawah,
sebab anak tangga pertama telah dihilang-keruhkan danau genangan hujan.
Satu per satu sisa hujan menetes-netes dari kanopi,
mengangkat permukaan genangan yang bergerak menggapai-gapai jempol kakiku.
Aku meraba sisa-sisa hujan itu dengan tangan terkepal,
bukan terbuka seperti orang berdoa,
sebab aku khawatir selaput tipis perlahan akan tumbuh di sela-sela jari-jariku.
Aku tak bisa berenang.
Aku tak akan sampai ke seberang.
Aku hanya menatap langit yang masih saja mengenang hujan.
Masih di anak tangga kedua teras rumah itu,
sambil menunggu danau yang belum juga surut,
aku berusaha menebak-nebak jawaban atas
pertanyaan seseorang dalam adegan sebuah film
: Menurutmu, apakah hujan jatuh berbutir-butir seperti pasir,
Atau terulur seperti jalur-jalur benang?
Makassar, Juni 09
lalu menularkannya ke halaman.
Halaman hanya punya satu selokan.
Selokan tersumbat, halaman berubah jadi danau genangan hujan
Di teras rumah berlantai dua itu, aku duduk di anak tangga kedua dari bawah,
sebab anak tangga pertama telah dihilang-keruhkan danau genangan hujan.
Satu per satu sisa hujan menetes-netes dari kanopi,
mengangkat permukaan genangan yang bergerak menggapai-gapai jempol kakiku.
Aku meraba sisa-sisa hujan itu dengan tangan terkepal,
bukan terbuka seperti orang berdoa,
sebab aku khawatir selaput tipis perlahan akan tumbuh di sela-sela jari-jariku.
Aku tak bisa berenang.
Aku tak akan sampai ke seberang.
Aku hanya menatap langit yang masih saja mengenang hujan.
Masih di anak tangga kedua teras rumah itu,
sambil menunggu danau yang belum juga surut,
aku berusaha menebak-nebak jawaban atas
pertanyaan seseorang dalam adegan sebuah film
: Menurutmu, apakah hujan jatuh berbutir-butir seperti pasir,
Atau terulur seperti jalur-jalur benang?
Makassar, Juni 09
Kamis, 04 Juni 2009
Misteri Kota Hilang di Dasar Laut
Mungkin dia terlalu rindu kamu sampai-sampai dia membangun sebuah kota lalu menguburnya di dasar laut. Orang-orang menyebutnya kota misteri. Kota hilang. Kendati setahu dia tak ada yang lebih teka-teki daripada kamu yang lama tak pulang. Hanya sunyi, senyap dan gelap. Rindu perlu berbahan tahun untuk tenggelam dalam lelap.
Maka beginilah dia: membangun kota untuk kamu cari untuk kemudian menemukannya yang telah kehabisan cara memberitahu kamu di mana tempat pulangmu berada. Ke sinilah kamu dengan robot-robot kapal selam, alat sonar dan radar yang bisa menyelam sampai ke dasar.
Temukanlah dia yang sudah separuh buta menyusun bebatu bata. Memahat dan memasak dinding-dinding kota di setiap ketika yang dia punya. Datanglah kamu sebelum orang lain datang menguras dan mengurung harta karun kota itu di koran-koran, museum dan rumah lelang.
Dia terlalu rindu kamu, sungguh, dia terlalu rindu kamu.
Makassar, Juni 09
Maka beginilah dia: membangun kota untuk kamu cari untuk kemudian menemukannya yang telah kehabisan cara memberitahu kamu di mana tempat pulangmu berada. Ke sinilah kamu dengan robot-robot kapal selam, alat sonar dan radar yang bisa menyelam sampai ke dasar.
Temukanlah dia yang sudah separuh buta menyusun bebatu bata. Memahat dan memasak dinding-dinding kota di setiap ketika yang dia punya. Datanglah kamu sebelum orang lain datang menguras dan mengurung harta karun kota itu di koran-koran, museum dan rumah lelang.
Dia terlalu rindu kamu, sungguh, dia terlalu rindu kamu.
Makassar, Juni 09
Sabtu, 18 April 2009
Selamat Pagi, Lelaki
I. Selamat pagi, Lelaki. Kau bangun lebih awal dibanding alarm telepon genggam yang kau aktifkan semalam. Masih banyak waktu sebelum subuh jingga kental yang terperangkap di bingkai jendela itu mengelupas jadi pagi berwajah pucat.
II. Tapi kau lebih memilih menunggu menit demi menit berangsur dari ranjangmu ketimbang berdiri mematung di depan jendela. Kau takut pada sesuatu yang disembunyikan jendela, bukan? Sesuatu yang sewaktu-waktu dapat tiba-tiba menyergap-rampas rahasia yang sudah susah payah kau abadikan.
III. Semalam bukan tidur paling menyenangkan buatmu. Kau diganggu batuk dan nyeri dada. Diganggu bantal, seprai, selimut dan kasur yang sepakat berlomba menirukan irama degub jantungnya. Diganggu riuh kipas angin yang mengantarkanmu pada mimpi tentang gemuruh kecelakaan di udara. Hei, lihat! Subuh yang terperangkap di bingkai jendela itu sekarang telah jadi pagi berwajah pucat.
IV. Seperti pagi kemarin dan kemarin, kau merapikan kamarmu; mematikan kipas angin, menata kembali bantal, seprai, selimut, dan kasur. (Mereka masih pulas mendengkur, capai setelah semalaman berpesta baju tidur) “Selamat melanjutkan tidur, kawan-kawanku yang nakal,” bisikmu.
V. Alarm di telepon genggam yang mestinya membangunkanmu itu akhirnya membangunkan dirinya sendiri. Tergesa-gesa kau membisukan bunyi alarm yang menjeritkan refrain “it’s oh so quiet” itu, sebelum seisi kamar terbangun dan menggerutu. Ah, kau masih saja senang mengulang pertanyaan Bjork di akhir lagu itu, “so what's the use of falling in love?
VI. Satu SMS masuk belum dibaca. SMS yang kau belum akan membalasnya. Kau tahu benar, sepagi ini dia tak akan mengirim SMS kepadamu, sebab kau dan dia telah terlanjur sepakat tak akan saling membangunkan di pagi hari untuk membiarkan masing-masing tidur sepuasnya, bermimpi sepuasnya dan saling memimpikan sepuasnya. Pula kau dan dia telah berjanji untuk tidak saling menyimpan potret di telepon genggam satu sama lain, agar kau dan dia bisa leluasa mencintai kangen, mencintai mimpi, mencintai tidur.
VII. Kecuali pagi ini. Kau sedikit tergoda menulis kalimat, "selamat pagi, perempuanku." di layar telepon genggammu. Hanya perlu menekan sebuah tombol di sebelah kiri, beberapa tombol angka, dan keberanian yang tak memiliki tombol. Tapi kau tak melakukan apa-apa selain menatap telepon genggam itu saja, dan lalu meletakkannya kembali seraya bergumam: “Cuma 26 karakter. Aku cuma berjarak 26 karakter darimu, Sayang.”
VIII. Kau kemudian meraih handuk dari gantungan, memutar keran dan mengisi bak mandi. Cukup lama kau berdiri sambil menyentuh-nyentuhkan ujung jarimu pada air yang sementara terkucur itu. Setelah itu kau menatapi dirimu yang tengah bersetengah-telanjang dalam bak mandi. Aneh benar kau, Lelaki. Kau takut pada jendela, tapi akrab sekali dengan bak mandi.
Makassar, April 2009
II. Tapi kau lebih memilih menunggu menit demi menit berangsur dari ranjangmu ketimbang berdiri mematung di depan jendela. Kau takut pada sesuatu yang disembunyikan jendela, bukan? Sesuatu yang sewaktu-waktu dapat tiba-tiba menyergap-rampas rahasia yang sudah susah payah kau abadikan.
III. Semalam bukan tidur paling menyenangkan buatmu. Kau diganggu batuk dan nyeri dada. Diganggu bantal, seprai, selimut dan kasur yang sepakat berlomba menirukan irama degub jantungnya. Diganggu riuh kipas angin yang mengantarkanmu pada mimpi tentang gemuruh kecelakaan di udara. Hei, lihat! Subuh yang terperangkap di bingkai jendela itu sekarang telah jadi pagi berwajah pucat.
IV. Seperti pagi kemarin dan kemarin, kau merapikan kamarmu; mematikan kipas angin, menata kembali bantal, seprai, selimut, dan kasur. (Mereka masih pulas mendengkur, capai setelah semalaman berpesta baju tidur) “Selamat melanjutkan tidur, kawan-kawanku yang nakal,” bisikmu.
V. Alarm di telepon genggam yang mestinya membangunkanmu itu akhirnya membangunkan dirinya sendiri. Tergesa-gesa kau membisukan bunyi alarm yang menjeritkan refrain “it’s oh so quiet” itu, sebelum seisi kamar terbangun dan menggerutu. Ah, kau masih saja senang mengulang pertanyaan Bjork di akhir lagu itu, “so what's the use of falling in love?
VI. Satu SMS masuk belum dibaca. SMS yang kau belum akan membalasnya. Kau tahu benar, sepagi ini dia tak akan mengirim SMS kepadamu, sebab kau dan dia telah terlanjur sepakat tak akan saling membangunkan di pagi hari untuk membiarkan masing-masing tidur sepuasnya, bermimpi sepuasnya dan saling memimpikan sepuasnya. Pula kau dan dia telah berjanji untuk tidak saling menyimpan potret di telepon genggam satu sama lain, agar kau dan dia bisa leluasa mencintai kangen, mencintai mimpi, mencintai tidur.
VII. Kecuali pagi ini. Kau sedikit tergoda menulis kalimat, "selamat pagi, perempuanku." di layar telepon genggammu. Hanya perlu menekan sebuah tombol di sebelah kiri, beberapa tombol angka, dan keberanian yang tak memiliki tombol. Tapi kau tak melakukan apa-apa selain menatap telepon genggam itu saja, dan lalu meletakkannya kembali seraya bergumam: “Cuma 26 karakter. Aku cuma berjarak 26 karakter darimu, Sayang.”
VIII. Kau kemudian meraih handuk dari gantungan, memutar keran dan mengisi bak mandi. Cukup lama kau berdiri sambil menyentuh-nyentuhkan ujung jarimu pada air yang sementara terkucur itu. Setelah itu kau menatapi dirimu yang tengah bersetengah-telanjang dalam bak mandi. Aneh benar kau, Lelaki. Kau takut pada jendela, tapi akrab sekali dengan bak mandi.
Makassar, April 2009
Kamis, 16 April 2009
Di Pantai, Kita Berandai
Di pantai itu, kita berandai, kau sebagai senja dan aku adalah hujan yang saling menghangatkan sekaligus membasahi, saling genggam, saling peluk sebentar sekali buat melepaskan rindu yang telah lama tak terlepaskan ini.
Duhai, betapa cuaca yang bingung membuat rupamu berantakan begini, ucapmu sembari mengusap bibirku yang baru saja memerah-jingga-kuning-hija
Duhai, betapa cuaca yang bingung membuat rupamu berantakan begini, ucapmu sembari mengusap bibirku yang baru saja memerah-jingga-kuning-hija
u-biru-nila-ungukan sepotong garis lengkung di pipimu.
Makassar, April 09
Makassar, April 09
Selasa, 24 Maret 2009
Pintu dan Tali Sepatu
--Pintu--
PINTU itu hanya sebuah pintu biasa.
Dibuat dari kayu yang kekurangan ukiran
dan kualitasnya barangkali tak begitu istimewa.
Pintu itu milik sebuah kamar rumah sakit yang memisahkan antara
ruangan pasien miskin dan ruangan pasien berada.
Dingin, keras, putih sedikit kusam,
pintu itu kadang memandangiku penuh selidik dan curiga.
“Pulanglah!” hardiknya suatu ketika, “jangan berani sakit kalau kau tak kaya.”
*
Mengapa kita hanya diajarkan mengetuk pintu saat masuk saja, dan tidak saat keluar?
Mungkin karena memasuki sesuatu itu lebih mudah
--seperti kau memasuki pintu pikiranku
dan keluar dari sesuatu itu lebih sulit
--sama sulitnya bagiku mengeluarkanmu lewat pintu yang sama
Kau keluar lewat pintu yang putih dan angkuh itu tanpa mengetuknya lebih dulu. Muncul bak peri, kau mendapatiku sedang berlutut mengikat tali sepatu.
--Tali sepatu--
Sederhana sekali sebenarnya;
1) samakan kedua ujung tali sepatu itu,
2) buatlah sejalin ikatan longgar, dan
3) kuatkan dengan sebuah simpul kupu-kupu.
Tiga tahap sederhana yang tak pernah becus kukerjakan
Bahkan sampai saat ini; saat ukuran kakiku telah mencapai 9 inci.
Tali sepatuku selalu saja terurai walau aku yakin
telah mengikatnya dengan kencang dan benar.
Dahulu, ketika kali pertama aku menyelesaikan ikatan tali sepatuku sendiri, ibuku tersenyum dan berkata sudah saatnya aku pergi sekolah tanpa ditemani. Mungkin tali sepatu adalah pertanda kedewasaan.
Ah, tahukah kau? aku senantiasa memimpikan
kelak dirimu yang akan melepaskan tali sepatuku
kalau-kalau aku merasa terlalu lelah melakukannya sendiri.
*
Aku tengah berlutut mengikat tali sepatu saat kau keluar
dari pintu yang dingin dan sinis itu.
Dari bawah terlihat dagumu yang merah dan bulat purnama.
Tali sepatuku, ajaibnya, telah terikat dengan sempurna.
Tahukah kau? Ada 34 cara mengikat tali sepatu.
Tapi aku hanya tahu satu cara jatuh cinta kepadamu.
Makassar, Maret 09
PINTU itu hanya sebuah pintu biasa.
Dibuat dari kayu yang kekurangan ukiran
dan kualitasnya barangkali tak begitu istimewa.
Pintu itu milik sebuah kamar rumah sakit yang memisahkan antara
ruangan pasien miskin dan ruangan pasien berada.
Dingin, keras, putih sedikit kusam,
pintu itu kadang memandangiku penuh selidik dan curiga.
“Pulanglah!” hardiknya suatu ketika, “jangan berani sakit kalau kau tak kaya.”
*
Mengapa kita hanya diajarkan mengetuk pintu saat masuk saja, dan tidak saat keluar?
Mungkin karena memasuki sesuatu itu lebih mudah
--seperti kau memasuki pintu pikiranku
dan keluar dari sesuatu itu lebih sulit
--sama sulitnya bagiku mengeluarkanmu lewat pintu yang sama
Kau keluar lewat pintu yang putih dan angkuh itu tanpa mengetuknya lebih dulu. Muncul bak peri, kau mendapatiku sedang berlutut mengikat tali sepatu.
--Tali sepatu--
Sederhana sekali sebenarnya;
1) samakan kedua ujung tali sepatu itu,
2) buatlah sejalin ikatan longgar, dan
3) kuatkan dengan sebuah simpul kupu-kupu.
Tiga tahap sederhana yang tak pernah becus kukerjakan
Bahkan sampai saat ini; saat ukuran kakiku telah mencapai 9 inci.
Tali sepatuku selalu saja terurai walau aku yakin
telah mengikatnya dengan kencang dan benar.
Dahulu, ketika kali pertama aku menyelesaikan ikatan tali sepatuku sendiri, ibuku tersenyum dan berkata sudah saatnya aku pergi sekolah tanpa ditemani. Mungkin tali sepatu adalah pertanda kedewasaan.
Ah, tahukah kau? aku senantiasa memimpikan
kelak dirimu yang akan melepaskan tali sepatuku
kalau-kalau aku merasa terlalu lelah melakukannya sendiri.
*
Aku tengah berlutut mengikat tali sepatu saat kau keluar
dari pintu yang dingin dan sinis itu.
Dari bawah terlihat dagumu yang merah dan bulat purnama.
Tali sepatuku, ajaibnya, telah terikat dengan sempurna.
Tahukah kau? Ada 34 cara mengikat tali sepatu.
Tapi aku hanya tahu satu cara jatuh cinta kepadamu.
Makassar, Maret 09
Selasa, 02 Desember 2008
Gadis Flu
Dia berkata, "Lurus saja
Terus di bagian utara gedung itu. Seorang gadis termangu, susah payah menghela nafasnya yang dibebani flu. Geliginya berwarna gading, matanya abu-abu, sesekali menatap ujung jalan seolah menunggu sesuatu."
Jawabku, "Ah, tiada siapa pun
Kecuali pohon-pohon yang menjaga jarak, tumbuh satu-satu, sementara dedaunan bundar kecilnya menghambur serupa serpih konfeti tahun baru. Mungkin bulan telah mengaburkan matamu. Di musim hujan seperti ini, bayangan bulan kadang serupa benar dengan bidadari yang menyepi dan menunggu."
Lalu dia menyanggah, "Tidak, lihatlah secermatnya
"Gadis itu membaca sebuah buku. Paling banyak dua halaman saja, sebab tak pernah aku melihatnya membuka halaman baru. Setiap kata seolah butuh dicernanya berjam-jam. Halaman buku, ujung jalan itu, halaman buku, ujung jalan itu, ujung jalan yang lain, lalu kembali ke halaman buku itu. Seolah-olah dia sedang menunggu sesuatu."
"Tak ada siapa-siapa," Tukasku,
"Kecuali bebangku pejal berjejal kesepian, semak dan ranting-ranting berjatuhan..."
"Sekarang lihatlah," sergahnya,
"Gadis itu menutup buku. Telunjuk tangan kanannya menyentuh kancing baju. Datang. Lalu meloncat ke kancing bajunya yang lain. Tak datang. Datang, tak datang, datang, tak datang. apakah kau yakin akan membiarkannya terus menunggu?"
Makassar, Desember 2008
Terus di bagian utara gedung itu. Seorang gadis termangu, susah payah menghela nafasnya yang dibebani flu. Geliginya berwarna gading, matanya abu-abu, sesekali menatap ujung jalan seolah menunggu sesuatu."
Jawabku, "Ah, tiada siapa pun
Kecuali pohon-pohon yang menjaga jarak, tumbuh satu-satu, sementara dedaunan bundar kecilnya menghambur serupa serpih konfeti tahun baru. Mungkin bulan telah mengaburkan matamu. Di musim hujan seperti ini, bayangan bulan kadang serupa benar dengan bidadari yang menyepi dan menunggu."
Lalu dia menyanggah, "Tidak, lihatlah secermatnya
"Gadis itu membaca sebuah buku. Paling banyak dua halaman saja, sebab tak pernah aku melihatnya membuka halaman baru. Setiap kata seolah butuh dicernanya berjam-jam. Halaman buku, ujung jalan itu, halaman buku, ujung jalan itu, ujung jalan yang lain, lalu kembali ke halaman buku itu. Seolah-olah dia sedang menunggu sesuatu."
"Tak ada siapa-siapa," Tukasku,
"Kecuali bebangku pejal berjejal kesepian, semak dan ranting-ranting berjatuhan..."
"Sekarang lihatlah," sergahnya,
"Gadis itu menutup buku. Telunjuk tangan kanannya menyentuh kancing baju. Datang. Lalu meloncat ke kancing bajunya yang lain. Tak datang. Datang, tak datang, datang, tak datang. apakah kau yakin akan membiarkannya terus menunggu?"
Makassar, Desember 2008
Selasa, 18 November 2008
Tirai
ANAK-ANAK adalah tirai yang tertiup angin.
Tirai adalah anak-anak yang terbantun angan.
Sore ini hujan. Hujan yang mulanya perlahan.
Tirai menyapa hujan lewat jendela,"apa kabar, hujan?"
"Baik-baik, tirai. Yuk, main," ajak hujan.
Tirai menggelengkan kepala.
Hujan adalah anak-anak yang bermain dan merdeka.
Tirai adalah anak-anak yang mengintip iri dari jendela.
"Ingat ya, tirai, jangan bermain dengan hujan.
Hujan itu kotor, jorok, nakal, sumber penyakit dan
malapetaka," gumam tirai pada dirinya sendiri.
Di luar jendela hujan bermain gundu dan sepakbola.
Di dalam kamar tirai bergelut rumus matematika.
"Yuk, main." ajak hujan sekali lagi,
tapi tirai tetap menggelengkan kepala.
"Ingat ya, tirai, banyak main itu kerjanya gelandangan.
Seperti hujan. Gelandangan itu tempatnya di jalan,
bukan rumah-rumah mewah atau gedung kantoran."
Di luar jendela kaki-kaki hujan menjadi cokelat
selepas berkejaran di atas rumput dan berenang di selokan.
Hujan adalah kegembiraan yang tergenang di jalanan,
sedang tirai adalah kesepian yang duduk di sofa
--sambil bercakap pada televisi yang bisa bicara
tapi tak sekali pun pernah menyahutnya.
"Ingat ya, tirai, dunia di luar jendela itu berbahaya.
Banyak kecelakaan, perampokan, pembunuhan,
perkosaan, penculikan..."
Tirai adalah anak-anak televisi
dan televisi adalah anak-anak yang berlagak dewasa.
Makassar, November 08
Tirai adalah anak-anak yang terbantun angan.
Sore ini hujan. Hujan yang mulanya perlahan.
Tirai menyapa hujan lewat jendela,"apa kabar, hujan?"
"Baik-baik, tirai. Yuk, main," ajak hujan.
Tirai menggelengkan kepala.
Hujan adalah anak-anak yang bermain dan merdeka.
Tirai adalah anak-anak yang mengintip iri dari jendela.
"Ingat ya, tirai, jangan bermain dengan hujan.
Hujan itu kotor, jorok, nakal, sumber penyakit dan
malapetaka," gumam tirai pada dirinya sendiri.
Di luar jendela hujan bermain gundu dan sepakbola.
Di dalam kamar tirai bergelut rumus matematika.
"Yuk, main." ajak hujan sekali lagi,
tapi tirai tetap menggelengkan kepala.
"Ingat ya, tirai, banyak main itu kerjanya gelandangan.
Seperti hujan. Gelandangan itu tempatnya di jalan,
bukan rumah-rumah mewah atau gedung kantoran."
Di luar jendela kaki-kaki hujan menjadi cokelat
selepas berkejaran di atas rumput dan berenang di selokan.
Hujan adalah kegembiraan yang tergenang di jalanan,
sedang tirai adalah kesepian yang duduk di sofa
--sambil bercakap pada televisi yang bisa bicara
tapi tak sekali pun pernah menyahutnya.
"Ingat ya, tirai, dunia di luar jendela itu berbahaya.
Banyak kecelakaan, perampokan, pembunuhan,
perkosaan, penculikan..."
Tirai adalah anak-anak televisi
dan televisi adalah anak-anak yang berlagak dewasa.
Makassar, November 08
Minggu, 16 November 2008
Botol
"AKU telah jatuh cinta pada setiap nafas dan batukmu,"
lirih botol obat batuk itu terbata-bata
tapi sang tahanan tak sedikit pun menghiraukannya.
Di sudut penjara, tahanan itu bersunyi saja
menjaga kapal mimpinya yang kunjung surut
digempur lautan batuk yang mengamuk.
Dua jam lepas tengah malam
pada akhirnya tahanan itu menyerah juga
botol itu direnggutnya tergesa, dicekiknya paksa.
"Persetan kapal mimpi. Persetan penjara ini!"
Raungnya sebelum menyesap kasar
cairan getir lewat bibir botol yang gemetar
"Cintai aku sewajarnya. Sewajarnya!"
Rintih botol obat batuk itu terengah-engah
tapi sang tahanan tak sedikit pun menghiraukannya.
Makassar, November 2008
lirih botol obat batuk itu terbata-bata
tapi sang tahanan tak sedikit pun menghiraukannya.
Di sudut penjara, tahanan itu bersunyi saja
menjaga kapal mimpinya yang kunjung surut
digempur lautan batuk yang mengamuk.
Dua jam lepas tengah malam
pada akhirnya tahanan itu menyerah juga
botol itu direnggutnya tergesa, dicekiknya paksa.
"Persetan kapal mimpi. Persetan penjara ini!"
Raungnya sebelum menyesap kasar
cairan getir lewat bibir botol yang gemetar
"Cintai aku sewajarnya. Sewajarnya!"
Rintih botol obat batuk itu terengah-engah
tapi sang tahanan tak sedikit pun menghiraukannya.
Makassar, November 2008
Senin, 27 Oktober 2008
Kaleng
SETELAH secuil mentega penghabisan meninggalkannya,
kaleng itu kemudian menyepi dan menjadi pertapa.
"Kosong adalah isi, isi adalah tiada," ucapnya
dalam bahasa kaleng menirukan Budha.
"Kaleng mentega bukanlah mentega
kaleng bersayap bukanlah kecoa
dan kecoa yang terbuat dari logam
tak bisa menjadi genta di menara gereja."
Kaleng yang tak bergizi tapi saleh itu
telah menjadi lebih pertapa dan bijaksana.
Sementara, di salah satu sudut dinding,
seekor kecoa sedang mencibir si kaleng
sambil memamerkan sayapnya.
Makassar, Oktober 2008
kaleng itu kemudian menyepi dan menjadi pertapa.
"Kosong adalah isi, isi adalah tiada," ucapnya
dalam bahasa kaleng menirukan Budha.
"Kaleng mentega bukanlah mentega
kaleng bersayap bukanlah kecoa
dan kecoa yang terbuat dari logam
tak bisa menjadi genta di menara gereja."
Kaleng yang tak bergizi tapi saleh itu
telah menjadi lebih pertapa dan bijaksana.
Sementara, di salah satu sudut dinding,
seekor kecoa sedang mencibir si kaleng
sambil memamerkan sayapnya.
Makassar, Oktober 2008
Jumat, 24 Oktober 2008
Rambut
KOTA sedang terpanggang
saat aku berteduh di bawah matamu yang rindang
dan seluruh lekuk liku sungai-sungai
yang membelah rambutku memasrahkan diri
pada telapak tanganmu yang lapang.
“Rambut kakak keriting rupanya,”
ucapmu sambil mengusap ubun-ubunku.
“Persis semak-semak di halaman belakang rumah saya.
Persis jelatang berduri yang pernah melukai kaki saya
entah dari mana datangnya.
Seingat saya mereka mulai tumbuh selang sehari
setelah saya menguburkan bangkai si belang,
kucing kesayangan saya, tepat di tempat yang sama.
Setelah itu mereka menjadi raja-raja
yang berebut wilayah untuk dijajah.
Kakak, adakah seekor kucing belang sedang terkubur
di akar-akar rambut ini?”
Aku menarik nafas panjang
sementara di luar matahari semakin garang.
Sungai-sungai mengering dan kota ini perlahan mengerang.
Tapi tak lama, mendung pun menggantung.
Ah, tak ada yang lebih fana dari hidup dan cuaca yang tanggung
“Rambutmu juga adik,” jawabku “juga tak kalah keritingnya.
Seperti gelombang lingsir di landai pantai
yang kadang tenang kadang meradang.
Aku pernah menjumpai pantai semacam itu,
yang kata penduduk sekitar
dihuni dewi berambut ular
yang senang menghadang nelayan
lalu mengutuknya jadi karang.
Dan kata penduduk pula
dewi itu sedang menunggu kekasihnya
yang tak pernah pulang.
Katakan padaku adik, di pangkal helai-helai rambutmu,
adakah seorang dewi sedang menunggu?"
Senja pun mampir semakin hampir,
sebagian tubuhnya yang menolak pudar
menerobos ventilasi udara
lantas bermain-main di ujung rambut-rambut kita.
Ah, rasanya tak ada yang lebih kekanakkan ketimbang waktu
dan sepasang kekasih yang bermain rindu.
Matamu seperti jendela
tempat seorang dewi berambut ular
mengintip seekor kucing belang
yang sedang mencakar pohon besar di mataku
Dan kita terdiam lama sekali,
sebelum akhirnya kita saling menyeberangi
rambut satu sama lain.
Makassar, Oktober 2008
saat aku berteduh di bawah matamu yang rindang
dan seluruh lekuk liku sungai-sungai
yang membelah rambutku memasrahkan diri
pada telapak tanganmu yang lapang.
“Rambut kakak keriting rupanya,”
ucapmu sambil mengusap ubun-ubunku.
“Persis semak-semak di halaman belakang rumah saya.
Persis jelatang berduri yang pernah melukai kaki saya
entah dari mana datangnya.
Seingat saya mereka mulai tumbuh selang sehari
setelah saya menguburkan bangkai si belang,
kucing kesayangan saya, tepat di tempat yang sama.
Setelah itu mereka menjadi raja-raja
yang berebut wilayah untuk dijajah.
Kakak, adakah seekor kucing belang sedang terkubur
di akar-akar rambut ini?”
Aku menarik nafas panjang
sementara di luar matahari semakin garang.
Sungai-sungai mengering dan kota ini perlahan mengerang.
Tapi tak lama, mendung pun menggantung.
Ah, tak ada yang lebih fana dari hidup dan cuaca yang tanggung
“Rambutmu juga adik,” jawabku “juga tak kalah keritingnya.
Seperti gelombang lingsir di landai pantai
yang kadang tenang kadang meradang.
Aku pernah menjumpai pantai semacam itu,
yang kata penduduk sekitar
dihuni dewi berambut ular
yang senang menghadang nelayan
lalu mengutuknya jadi karang.
Dan kata penduduk pula
dewi itu sedang menunggu kekasihnya
yang tak pernah pulang.
Katakan padaku adik, di pangkal helai-helai rambutmu,
adakah seorang dewi sedang menunggu?"
Senja pun mampir semakin hampir,
sebagian tubuhnya yang menolak pudar
menerobos ventilasi udara
lantas bermain-main di ujung rambut-rambut kita.
Ah, rasanya tak ada yang lebih kekanakkan ketimbang waktu
dan sepasang kekasih yang bermain rindu.
Matamu seperti jendela
tempat seorang dewi berambut ular
mengintip seekor kucing belang
yang sedang mencakar pohon besar di mataku
Dan kita terdiam lama sekali,
sebelum akhirnya kita saling menyeberangi
rambut satu sama lain.
Makassar, Oktober 2008
Jumat, 03 Oktober 2008
Kartupos dari Makassar
ALAMATKAN kartuposmu itu kepadaku saja
di sini, di Makassar.
kota ini perlahan tenggelam di bibir gadis-gadis
berwajah muram
sebentar nadinya berdegub, sebentar kemudian
lemah dan sayup
tak ubahnya kura-kura yang tertatih-tatih
memanggul beban bertumpuk-tumpuk.
Tuliskan namanya dengan jelas dan benar, Makassar
tembok-tembok tumbuh teramat rapat dan tiba-tiba
sementara luka perang saudara bertahun-tahun
masih lebar menganga.
Sungai Tello dapat kau pakai bercermin
Karebosi barangkali tak akan pernah mengering
jalanan dilebarkan, dibelah
dan disusun di puncak topang tinggi
tentu kau tahu di sudut mana aku kerap menulis puisi.
Di Makassar, kartuposmu tak akan tersasar, percayalah
sebab masih ada orang-orang berwajah ramah
harga senyum murah, walau harga sembako
mahal dan menggila seperti kuda terbakar buntutnya.
Benar di sini banyak pencopet, maling,
penodong, preman pasar dan mahasiswa
namun kabar gembiranya, di kota ini masih
ada penyair seperti aku
dan pengemis telah dilarang meminta-minta.
Kelak, setelah kartuposmu tiba
segera akan kukirim balasan
sehelai kartupos juga, bergambar
wajah makassar yang penuh liku garis usia.
Makassar, Oktober 08
di sini, di Makassar.
kota ini perlahan tenggelam di bibir gadis-gadis
berwajah muram
sebentar nadinya berdegub, sebentar kemudian
lemah dan sayup
tak ubahnya kura-kura yang tertatih-tatih
memanggul beban bertumpuk-tumpuk.
Tuliskan namanya dengan jelas dan benar, Makassar
tembok-tembok tumbuh teramat rapat dan tiba-tiba
sementara luka perang saudara bertahun-tahun
masih lebar menganga.
Sungai Tello dapat kau pakai bercermin
Karebosi barangkali tak akan pernah mengering
jalanan dilebarkan, dibelah
dan disusun di puncak topang tinggi
tentu kau tahu di sudut mana aku kerap menulis puisi.
Di Makassar, kartuposmu tak akan tersasar, percayalah
sebab masih ada orang-orang berwajah ramah
harga senyum murah, walau harga sembako
mahal dan menggila seperti kuda terbakar buntutnya.
Benar di sini banyak pencopet, maling,
penodong, preman pasar dan mahasiswa
namun kabar gembiranya, di kota ini masih
ada penyair seperti aku
dan pengemis telah dilarang meminta-minta.
Kelak, setelah kartuposmu tiba
segera akan kukirim balasan
sehelai kartupos juga, bergambar
wajah makassar yang penuh liku garis usia.
Makassar, Oktober 08
Seseorang Mestinya Telah Tertidur
DALAM ketenteraman kata-kata
seseorang mestinya telah tertidur malam ini
tapi bukan aku, Gadis.
Kata-kata, sebaliknya,
menggambar wajahmu di langit-langit kamar
bulu-bulu matamu serupa berayun dan hidup
diterpa kipas angin listrik yang berputar.
Juga kata-kata, seolah membentur derik
jangkerik yang bersahut-sahut
dan itu mengundang cemas dan takut
aku cemas bila terlelap
dan takut tersasar di lambung mimpi yang berpusar.
Walau telah kulewati pertengahan malam ini, Gadis,
Segalanya ternyata baru saja dimulai
kereta terjungkir dari rel,
tiga sepeda motor remuk di jalur pantura
dan laba-laba yang menjalin sarang di pojok kamarku
terombang-ambing di laut wajahmu.
Setelah itu entah apa lagi,
entah apa lagi.
Makassar, Oktober 08
seseorang mestinya telah tertidur malam ini
tapi bukan aku, Gadis.
Kata-kata, sebaliknya,
menggambar wajahmu di langit-langit kamar
bulu-bulu matamu serupa berayun dan hidup
diterpa kipas angin listrik yang berputar.
Juga kata-kata, seolah membentur derik
jangkerik yang bersahut-sahut
dan itu mengundang cemas dan takut
aku cemas bila terlelap
dan takut tersasar di lambung mimpi yang berpusar.
Walau telah kulewati pertengahan malam ini, Gadis,
Segalanya ternyata baru saja dimulai
kereta terjungkir dari rel,
tiga sepeda motor remuk di jalur pantura
dan laba-laba yang menjalin sarang di pojok kamarku
terombang-ambing di laut wajahmu.
Setelah itu entah apa lagi,
entah apa lagi.
Makassar, Oktober 08
Kamis, 02 Oktober 2008
Ladang Tebu
KATAKAN padaku, Gadis,
gerangan apa yang tumbuh di keningmu itu?
Ladang tebu, jawabmu,
sehampar yang menyimpan getah gula
ribuan galon banyaknya.
Sayang, cintaku bukan traktor
bukan bilah-bilah tajam bergerigi
yang terpacak di moncong mesin pemanen otomatis.
Juga tak tega aku meninggalkan
ladangmu kerontang
meski ingin benar kureguk
tetes-tetes cintamu yang manis.
Izinkan aku, Gadis, mencintaimu seperti petani
yang menjaga tanah dengan darah
dan merawat tetumbuhan selayaknya
menekuni bayi sendiri.
Sebab aku bukan peluru
bukan sangkur yang kuasa
merampasmu paksa.
Makassar, Oktober 08
gerangan apa yang tumbuh di keningmu itu?
Ladang tebu, jawabmu,
sehampar yang menyimpan getah gula
ribuan galon banyaknya.
Sayang, cintaku bukan traktor
bukan bilah-bilah tajam bergerigi
yang terpacak di moncong mesin pemanen otomatis.
Juga tak tega aku meninggalkan
ladangmu kerontang
meski ingin benar kureguk
tetes-tetes cintamu yang manis.
Izinkan aku, Gadis, mencintaimu seperti petani
yang menjaga tanah dengan darah
dan merawat tetumbuhan selayaknya
menekuni bayi sendiri.
Sebab aku bukan peluru
bukan sangkur yang kuasa
merampasmu paksa.
Makassar, Oktober 08
Gelap Sunyi
GELAP, sunyi, gelap, sunyi; sudah aku duga ada yang tak beres pada Oktober kali ini. Matahari bersinar jelas dan percakapan-percakapan jatuh di jalan-jalan seperti hujan, seperti simfoni, tapi yang mengepungku masih saja bernama gelap dan sunyi.
Barangkali, sebab jauh dari rumah, dari ibu dan kembang yang diukirnya di atas kue lebaran, jarak kemudian melamurkan pandangan demi memantik rindu yang berhulu dari kenangan. Oh, jarak, kepadanya pernah aku menitip harap teramat banyak, namun akhirnya hanya tersisa tak ada yang kita; hanya ada kau yang saja dan aku tak pernah ada.
Aku tahu, Oktober tak kunjung ramah pada kelopak bunga musim semi dan anak-anak yang tetap puasa seusai lebaran fitri. Tapi mengapa Oktober kali ini juga tak ramah padaku? Dalam gelap, dalam sunyi; tak kumiliki Oktober kali ini. Juga kau yang memanggilku dengan nama orang lain.
Gelap, sunyi, gelap, sunyi; untuk gelap aku nyalakan lampu, buat sunyi aku tulis puisi. Menulis puisi, sayangku, tak seperti membangun museum atau surga; penghuninya tak akan abadi begitu saja. Menulis puisi tak ubahnya seperti aku membakar jantung sendiri, namun tak kau lihat apa pun selain asap dan api.
Makassar, Oktober 08
Barangkali, sebab jauh dari rumah, dari ibu dan kembang yang diukirnya di atas kue lebaran, jarak kemudian melamurkan pandangan demi memantik rindu yang berhulu dari kenangan. Oh, jarak, kepadanya pernah aku menitip harap teramat banyak, namun akhirnya hanya tersisa tak ada yang kita; hanya ada kau yang saja dan aku tak pernah ada.
Aku tahu, Oktober tak kunjung ramah pada kelopak bunga musim semi dan anak-anak yang tetap puasa seusai lebaran fitri. Tapi mengapa Oktober kali ini juga tak ramah padaku? Dalam gelap, dalam sunyi; tak kumiliki Oktober kali ini. Juga kau yang memanggilku dengan nama orang lain.
Gelap, sunyi, gelap, sunyi; untuk gelap aku nyalakan lampu, buat sunyi aku tulis puisi. Menulis puisi, sayangku, tak seperti membangun museum atau surga; penghuninya tak akan abadi begitu saja. Menulis puisi tak ubahnya seperti aku membakar jantung sendiri, namun tak kau lihat apa pun selain asap dan api.
Makassar, Oktober 08
Sabtu, 27 September 2008
Tentang Hujan dan Ulang Tahun ke-24 Seorang Perempuan
:Astri Yuningsih, selamat ulang tahun
BUKAN aku yang membawa hujan malam itu. Bukan pula hujan bermaksud menjadi kado ulang tahun untukmu. Bahkan aku lupa membawa kado dan mantel hujan untuk menepis gerimis dari wajahmu. Barangkali, hujan ingin menggantikan 24 batang lilin yang mestinya dinyalakan seseorang ketika itu. Ah, ketimbang meniup lilin, memang lebih pantas rasanya jika kau merayakan ulang tahun dengan meniup hujan saja.
Sungguh, bukan aku yang membawa hujan malam itu. Bahkan aku lupa membawa kado untukmu. Kita berteduh sejenak sembari saling bercerita tentang betapa menakutkannya pertambahan usia. Suatu saat kita akan tua, berbaring kesepian di atas balai-balai dan menatap ke luar jendela sambil menahan tulang-tulang yang merintih gemeretak tiap kali kita bergerak.
Aci, Aci, maafkan mulutku. Mestinya cerita macam itu tak patut kau dengar dari seseorang yang lupa membawakanmu sekotak kado ulang tahun. Sebentar kemudian hujan reda. Sebentar kemudian kau mengeluh soal panas yang mulai menjalari kepala. Rupanya hujan telah meninggalkan kado yang manis. Dan bunyi bersinmu persis seperti perempuan yang sedang meniup hujan.
Makassar, September 08
BUKAN aku yang membawa hujan malam itu. Bukan pula hujan bermaksud menjadi kado ulang tahun untukmu. Bahkan aku lupa membawa kado dan mantel hujan untuk menepis gerimis dari wajahmu. Barangkali, hujan ingin menggantikan 24 batang lilin yang mestinya dinyalakan seseorang ketika itu. Ah, ketimbang meniup lilin, memang lebih pantas rasanya jika kau merayakan ulang tahun dengan meniup hujan saja.
Sungguh, bukan aku yang membawa hujan malam itu. Bahkan aku lupa membawa kado untukmu. Kita berteduh sejenak sembari saling bercerita tentang betapa menakutkannya pertambahan usia. Suatu saat kita akan tua, berbaring kesepian di atas balai-balai dan menatap ke luar jendela sambil menahan tulang-tulang yang merintih gemeretak tiap kali kita bergerak.
Aci, Aci, maafkan mulutku. Mestinya cerita macam itu tak patut kau dengar dari seseorang yang lupa membawakanmu sekotak kado ulang tahun. Sebentar kemudian hujan reda. Sebentar kemudian kau mengeluh soal panas yang mulai menjalari kepala. Rupanya hujan telah meninggalkan kado yang manis. Dan bunyi bersinmu persis seperti perempuan yang sedang meniup hujan.
Makassar, September 08
Risalah Halaman
Ayat 1 (Pagar)
Hujan tak pernah memilih-milah
apakah besi, apakah batu
Akan berkarat segala yang terluput
dari lumut
Ayat 2 (Sulur)
Sejauh apapun tak akan terjangkau matahari
Sejauh kau tak membujuk yang kau peluk
untuk tumbuh lebih tinggi
Ayat 3 (Rumput Teki)
Bagilah air dari sisa embun semalam
untuk menyembunyikan api
milik puntung rokok yang meloncat
dari jendela
Ayat 4 (Semak)
Dari tanah berbau dingin
satu saat kau terbang dikepit paruh burung
menuju sarang tempat mereka menghangatkan
telur-telurnya
Ayat 5 (Pohon Mangga)
Akan luruh berpuluh helai daun tua,
ranting-ranting goyah
sebelum tumbuh sebiji yang manis dan buah
Ayat 6 (Tempat Sampah)
Berkumpul segala yang tercampak,
merana dan dikhianati
Terbakar dalam api berwarna dendam
Ayat 7 (Saluran Air)
Siapa peduli pada yang tenggelam
Siapa peduli jika ada yang sampai di tujuan.
Makassar, September 08
Hujan tak pernah memilih-milah
apakah besi, apakah batu
Akan berkarat segala yang terluput
dari lumut
Ayat 2 (Sulur)
Sejauh apapun tak akan terjangkau matahari
Sejauh kau tak membujuk yang kau peluk
untuk tumbuh lebih tinggi
Ayat 3 (Rumput Teki)
Bagilah air dari sisa embun semalam
untuk menyembunyikan api
milik puntung rokok yang meloncat
dari jendela
Ayat 4 (Semak)
Dari tanah berbau dingin
satu saat kau terbang dikepit paruh burung
menuju sarang tempat mereka menghangatkan
telur-telurnya
Ayat 5 (Pohon Mangga)
Akan luruh berpuluh helai daun tua,
ranting-ranting goyah
sebelum tumbuh sebiji yang manis dan buah
Ayat 6 (Tempat Sampah)
Berkumpul segala yang tercampak,
merana dan dikhianati
Terbakar dalam api berwarna dendam
Ayat 7 (Saluran Air)
Siapa peduli pada yang tenggelam
Siapa peduli jika ada yang sampai di tujuan.
Makassar, September 08
Langganan:
Postingan (Atom)