--Pintu--
PINTU itu hanya sebuah pintu biasa.
Dibuat dari kayu yang kekurangan ukiran
dan kualitasnya barangkali tak begitu istimewa.
Pintu itu milik sebuah kamar rumah sakit yang memisahkan antara
ruangan pasien miskin dan ruangan pasien berada.
Dingin, keras, putih sedikit kusam,
pintu itu kadang memandangiku penuh selidik dan curiga.
“Pulanglah!” hardiknya suatu ketika, “jangan berani sakit kalau kau tak kaya.”
*
Mengapa kita hanya diajarkan mengetuk pintu saat masuk saja, dan tidak saat keluar?
Mungkin karena memasuki sesuatu itu lebih mudah
--seperti kau memasuki pintu pikiranku
dan keluar dari sesuatu itu lebih sulit
--sama sulitnya bagiku mengeluarkanmu lewat pintu yang sama
Kau keluar lewat pintu yang putih dan angkuh itu tanpa mengetuknya lebih dulu. Muncul bak peri, kau mendapatiku sedang berlutut mengikat tali sepatu.
--Tali sepatu--
Sederhana sekali sebenarnya;
1) samakan kedua ujung tali sepatu itu,
2) buatlah sejalin ikatan longgar, dan
3) kuatkan dengan sebuah simpul kupu-kupu.
Tiga tahap sederhana yang tak pernah becus kukerjakan
Bahkan sampai saat ini; saat ukuran kakiku telah mencapai 9 inci.
Tali sepatuku selalu saja terurai walau aku yakin
telah mengikatnya dengan kencang dan benar.
Dahulu, ketika kali pertama aku menyelesaikan ikatan tali sepatuku sendiri, ibuku tersenyum dan berkata sudah saatnya aku pergi sekolah tanpa ditemani. Mungkin tali sepatu adalah pertanda kedewasaan.
Ah, tahukah kau? aku senantiasa memimpikan
kelak dirimu yang akan melepaskan tali sepatuku
kalau-kalau aku merasa terlalu lelah melakukannya sendiri.
*
Aku tengah berlutut mengikat tali sepatu saat kau keluar
dari pintu yang dingin dan sinis itu.
Dari bawah terlihat dagumu yang merah dan bulat purnama.
Tali sepatuku, ajaibnya, telah terikat dengan sempurna.
Tahukah kau? Ada 34 cara mengikat tali sepatu.
Tapi aku hanya tahu satu cara jatuh cinta kepadamu.
Makassar, Maret 09
Selasa, 24 Maret 2009
Selasa, 02 Desember 2008
Gadis Flu
Dia berkata, "Lurus saja
Terus di bagian utara gedung itu. Seorang gadis termangu, susah payah menghela nafasnya yang dibebani flu. Geliginya berwarna gading, matanya abu-abu, sesekali menatap ujung jalan seolah menunggu sesuatu."
Jawabku, "Ah, tiada siapa pun
Kecuali pohon-pohon yang menjaga jarak, tumbuh satu-satu, sementara dedaunan bundar kecilnya menghambur serupa serpih konfeti tahun baru. Mungkin bulan telah mengaburkan matamu. Di musim hujan seperti ini, bayangan bulan kadang serupa benar dengan bidadari yang menyepi dan menunggu."
Lalu dia menyanggah, "Tidak, lihatlah secermatnya
"Gadis itu membaca sebuah buku. Paling banyak dua halaman saja, sebab tak pernah aku melihatnya membuka halaman baru. Setiap kata seolah butuh dicernanya berjam-jam. Halaman buku, ujung jalan itu, halaman buku, ujung jalan itu, ujung jalan yang lain, lalu kembali ke halaman buku itu. Seolah-olah dia sedang menunggu sesuatu."
"Tak ada siapa-siapa," Tukasku,
"Kecuali bebangku pejal berjejal kesepian, semak dan ranting-ranting berjatuhan..."
"Sekarang lihatlah," sergahnya,
"Gadis itu menutup buku. Telunjuk tangan kanannya menyentuh kancing baju. Datang. Lalu meloncat ke kancing bajunya yang lain. Tak datang. Datang, tak datang, datang, tak datang. apakah kau yakin akan membiarkannya terus menunggu?"
Makassar, Desember 2008
Terus di bagian utara gedung itu. Seorang gadis termangu, susah payah menghela nafasnya yang dibebani flu. Geliginya berwarna gading, matanya abu-abu, sesekali menatap ujung jalan seolah menunggu sesuatu."
Jawabku, "Ah, tiada siapa pun
Kecuali pohon-pohon yang menjaga jarak, tumbuh satu-satu, sementara dedaunan bundar kecilnya menghambur serupa serpih konfeti tahun baru. Mungkin bulan telah mengaburkan matamu. Di musim hujan seperti ini, bayangan bulan kadang serupa benar dengan bidadari yang menyepi dan menunggu."
Lalu dia menyanggah, "Tidak, lihatlah secermatnya
"Gadis itu membaca sebuah buku. Paling banyak dua halaman saja, sebab tak pernah aku melihatnya membuka halaman baru. Setiap kata seolah butuh dicernanya berjam-jam. Halaman buku, ujung jalan itu, halaman buku, ujung jalan itu, ujung jalan yang lain, lalu kembali ke halaman buku itu. Seolah-olah dia sedang menunggu sesuatu."
"Tak ada siapa-siapa," Tukasku,
"Kecuali bebangku pejal berjejal kesepian, semak dan ranting-ranting berjatuhan..."
"Sekarang lihatlah," sergahnya,
"Gadis itu menutup buku. Telunjuk tangan kanannya menyentuh kancing baju. Datang. Lalu meloncat ke kancing bajunya yang lain. Tak datang. Datang, tak datang, datang, tak datang. apakah kau yakin akan membiarkannya terus menunggu?"
Makassar, Desember 2008
Selasa, 18 November 2008
Tirai
ANAK-ANAK adalah tirai yang tertiup angin.
Tirai adalah anak-anak yang terbantun angan.
Sore ini hujan. Hujan yang mulanya perlahan.
Tirai menyapa hujan lewat jendela,"apa kabar, hujan?"
"Baik-baik, tirai. Yuk, main," ajak hujan.
Tirai menggelengkan kepala.
Hujan adalah anak-anak yang bermain dan merdeka.
Tirai adalah anak-anak yang mengintip iri dari jendela.
"Ingat ya, tirai, jangan bermain dengan hujan.
Hujan itu kotor, jorok, nakal, sumber penyakit dan
malapetaka," gumam tirai pada dirinya sendiri.
Di luar jendela hujan bermain gundu dan sepakbola.
Di dalam kamar tirai bergelut rumus matematika.
"Yuk, main." ajak hujan sekali lagi,
tapi tirai tetap menggelengkan kepala.
"Ingat ya, tirai, banyak main itu kerjanya gelandangan.
Seperti hujan. Gelandangan itu tempatnya di jalan,
bukan rumah-rumah mewah atau gedung kantoran."
Di luar jendela kaki-kaki hujan menjadi cokelat
selepas berkejaran di atas rumput dan berenang di selokan.
Hujan adalah kegembiraan yang tergenang di jalanan,
sedang tirai adalah kesepian yang duduk di sofa
--sambil bercakap pada televisi yang bisa bicara
tapi tak sekali pun pernah menyahutnya.
"Ingat ya, tirai, dunia di luar jendela itu berbahaya.
Banyak kecelakaan, perampokan, pembunuhan,
perkosaan, penculikan..."
Tirai adalah anak-anak televisi
dan televisi adalah anak-anak yang berlagak dewasa.
Makassar, November 08
Tirai adalah anak-anak yang terbantun angan.
Sore ini hujan. Hujan yang mulanya perlahan.
Tirai menyapa hujan lewat jendela,"apa kabar, hujan?"
"Baik-baik, tirai. Yuk, main," ajak hujan.
Tirai menggelengkan kepala.
Hujan adalah anak-anak yang bermain dan merdeka.
Tirai adalah anak-anak yang mengintip iri dari jendela.
"Ingat ya, tirai, jangan bermain dengan hujan.
Hujan itu kotor, jorok, nakal, sumber penyakit dan
malapetaka," gumam tirai pada dirinya sendiri.
Di luar jendela hujan bermain gundu dan sepakbola.
Di dalam kamar tirai bergelut rumus matematika.
"Yuk, main." ajak hujan sekali lagi,
tapi tirai tetap menggelengkan kepala.
"Ingat ya, tirai, banyak main itu kerjanya gelandangan.
Seperti hujan. Gelandangan itu tempatnya di jalan,
bukan rumah-rumah mewah atau gedung kantoran."
Di luar jendela kaki-kaki hujan menjadi cokelat
selepas berkejaran di atas rumput dan berenang di selokan.
Hujan adalah kegembiraan yang tergenang di jalanan,
sedang tirai adalah kesepian yang duduk di sofa
--sambil bercakap pada televisi yang bisa bicara
tapi tak sekali pun pernah menyahutnya.
"Ingat ya, tirai, dunia di luar jendela itu berbahaya.
Banyak kecelakaan, perampokan, pembunuhan,
perkosaan, penculikan..."
Tirai adalah anak-anak televisi
dan televisi adalah anak-anak yang berlagak dewasa.
Makassar, November 08
Minggu, 16 November 2008
Botol
"AKU telah jatuh cinta pada setiap nafas dan batukmu,"
lirih botol obat batuk itu terbata-bata
tapi sang tahanan tak sedikit pun menghiraukannya.
Di sudut penjara, tahanan itu bersunyi saja
menjaga kapal mimpinya yang kunjung surut
digempur lautan batuk yang mengamuk.
Dua jam lepas tengah malam
pada akhirnya tahanan itu menyerah juga
botol itu direnggutnya tergesa, dicekiknya paksa.
"Persetan kapal mimpi. Persetan penjara ini!"
Raungnya sebelum menyesap kasar
cairan getir lewat bibir botol yang gemetar
"Cintai aku sewajarnya. Sewajarnya!"
Rintih botol obat batuk itu terengah-engah
tapi sang tahanan tak sedikit pun menghiraukannya.
Makassar, November 2008
lirih botol obat batuk itu terbata-bata
tapi sang tahanan tak sedikit pun menghiraukannya.
Di sudut penjara, tahanan itu bersunyi saja
menjaga kapal mimpinya yang kunjung surut
digempur lautan batuk yang mengamuk.
Dua jam lepas tengah malam
pada akhirnya tahanan itu menyerah juga
botol itu direnggutnya tergesa, dicekiknya paksa.
"Persetan kapal mimpi. Persetan penjara ini!"
Raungnya sebelum menyesap kasar
cairan getir lewat bibir botol yang gemetar
"Cintai aku sewajarnya. Sewajarnya!"
Rintih botol obat batuk itu terengah-engah
tapi sang tahanan tak sedikit pun menghiraukannya.
Makassar, November 2008
Senin, 27 Oktober 2008
Kaleng
SETELAH secuil mentega penghabisan meninggalkannya,
kaleng itu kemudian menyepi dan menjadi pertapa.
"Kosong adalah isi, isi adalah tiada," ucapnya
dalam bahasa kaleng menirukan Budha.
"Kaleng mentega bukanlah mentega
kaleng bersayap bukanlah kecoa
dan kecoa yang terbuat dari logam
tak bisa menjadi genta di menara gereja."
Kaleng yang tak bergizi tapi saleh itu
telah menjadi lebih pertapa dan bijaksana.
Sementara, di salah satu sudut dinding,
seekor kecoa sedang mencibir si kaleng
sambil memamerkan sayapnya.
Makassar, Oktober 2008
kaleng itu kemudian menyepi dan menjadi pertapa.
"Kosong adalah isi, isi adalah tiada," ucapnya
dalam bahasa kaleng menirukan Budha.
"Kaleng mentega bukanlah mentega
kaleng bersayap bukanlah kecoa
dan kecoa yang terbuat dari logam
tak bisa menjadi genta di menara gereja."
Kaleng yang tak bergizi tapi saleh itu
telah menjadi lebih pertapa dan bijaksana.
Sementara, di salah satu sudut dinding,
seekor kecoa sedang mencibir si kaleng
sambil memamerkan sayapnya.
Makassar, Oktober 2008
Jumat, 24 Oktober 2008
Rambut
KOTA sedang terpanggang
saat aku berteduh di bawah matamu yang rindang
dan seluruh lekuk liku sungai-sungai
yang membelah rambutku memasrahkan diri
pada telapak tanganmu yang lapang.
“Rambut kakak keriting rupanya,”
ucapmu sambil mengusap ubun-ubunku.
“Persis semak-semak di halaman belakang rumah saya.
Persis jelatang berduri yang pernah melukai kaki saya
entah dari mana datangnya.
Seingat saya mereka mulai tumbuh selang sehari
setelah saya menguburkan bangkai si belang,
kucing kesayangan saya, tepat di tempat yang sama.
Setelah itu mereka menjadi raja-raja
yang berebut wilayah untuk dijajah.
Kakak, adakah seekor kucing belang sedang terkubur
di akar-akar rambut ini?”
Aku menarik nafas panjang
sementara di luar matahari semakin garang.
Sungai-sungai mengering dan kota ini perlahan mengerang.
Tapi tak lama, mendung pun menggantung.
Ah, tak ada yang lebih fana dari hidup dan cuaca yang tanggung
“Rambutmu juga adik,” jawabku “juga tak kalah keritingnya.
Seperti gelombang lingsir di landai pantai
yang kadang tenang kadang meradang.
Aku pernah menjumpai pantai semacam itu,
yang kata penduduk sekitar
dihuni dewi berambut ular
yang senang menghadang nelayan
lalu mengutuknya jadi karang.
Dan kata penduduk pula
dewi itu sedang menunggu kekasihnya
yang tak pernah pulang.
Katakan padaku adik, di pangkal helai-helai rambutmu,
adakah seorang dewi sedang menunggu?"
Senja pun mampir semakin hampir,
sebagian tubuhnya yang menolak pudar
menerobos ventilasi udara
lantas bermain-main di ujung rambut-rambut kita.
Ah, rasanya tak ada yang lebih kekanakkan ketimbang waktu
dan sepasang kekasih yang bermain rindu.
Matamu seperti jendela
tempat seorang dewi berambut ular
mengintip seekor kucing belang
yang sedang mencakar pohon besar di mataku
Dan kita terdiam lama sekali,
sebelum akhirnya kita saling menyeberangi
rambut satu sama lain.
Makassar, Oktober 2008
saat aku berteduh di bawah matamu yang rindang
dan seluruh lekuk liku sungai-sungai
yang membelah rambutku memasrahkan diri
pada telapak tanganmu yang lapang.
“Rambut kakak keriting rupanya,”
ucapmu sambil mengusap ubun-ubunku.
“Persis semak-semak di halaman belakang rumah saya.
Persis jelatang berduri yang pernah melukai kaki saya
entah dari mana datangnya.
Seingat saya mereka mulai tumbuh selang sehari
setelah saya menguburkan bangkai si belang,
kucing kesayangan saya, tepat di tempat yang sama.
Setelah itu mereka menjadi raja-raja
yang berebut wilayah untuk dijajah.
Kakak, adakah seekor kucing belang sedang terkubur
di akar-akar rambut ini?”
Aku menarik nafas panjang
sementara di luar matahari semakin garang.
Sungai-sungai mengering dan kota ini perlahan mengerang.
Tapi tak lama, mendung pun menggantung.
Ah, tak ada yang lebih fana dari hidup dan cuaca yang tanggung
“Rambutmu juga adik,” jawabku “juga tak kalah keritingnya.
Seperti gelombang lingsir di landai pantai
yang kadang tenang kadang meradang.
Aku pernah menjumpai pantai semacam itu,
yang kata penduduk sekitar
dihuni dewi berambut ular
yang senang menghadang nelayan
lalu mengutuknya jadi karang.
Dan kata penduduk pula
dewi itu sedang menunggu kekasihnya
yang tak pernah pulang.
Katakan padaku adik, di pangkal helai-helai rambutmu,
adakah seorang dewi sedang menunggu?"
Senja pun mampir semakin hampir,
sebagian tubuhnya yang menolak pudar
menerobos ventilasi udara
lantas bermain-main di ujung rambut-rambut kita.
Ah, rasanya tak ada yang lebih kekanakkan ketimbang waktu
dan sepasang kekasih yang bermain rindu.
Matamu seperti jendela
tempat seorang dewi berambut ular
mengintip seekor kucing belang
yang sedang mencakar pohon besar di mataku
Dan kita terdiam lama sekali,
sebelum akhirnya kita saling menyeberangi
rambut satu sama lain.
Makassar, Oktober 2008
Jumat, 03 Oktober 2008
Kartupos dari Makassar
ALAMATKAN kartuposmu itu kepadaku saja
di sini, di Makassar.
kota ini perlahan tenggelam di bibir gadis-gadis
berwajah muram
sebentar nadinya berdegub, sebentar kemudian
lemah dan sayup
tak ubahnya kura-kura yang tertatih-tatih
memanggul beban bertumpuk-tumpuk.
Tuliskan namanya dengan jelas dan benar, Makassar
tembok-tembok tumbuh teramat rapat dan tiba-tiba
sementara luka perang saudara bertahun-tahun
masih lebar menganga.
Sungai Tello dapat kau pakai bercermin
Karebosi barangkali tak akan pernah mengering
jalanan dilebarkan, dibelah
dan disusun di puncak topang tinggi
tentu kau tahu di sudut mana aku kerap menulis puisi.
Di Makassar, kartuposmu tak akan tersasar, percayalah
sebab masih ada orang-orang berwajah ramah
harga senyum murah, walau harga sembako
mahal dan menggila seperti kuda terbakar buntutnya.
Benar di sini banyak pencopet, maling,
penodong, preman pasar dan mahasiswa
namun kabar gembiranya, di kota ini masih
ada penyair seperti aku
dan pengemis telah dilarang meminta-minta.
Kelak, setelah kartuposmu tiba
segera akan kukirim balasan
sehelai kartupos juga, bergambar
wajah makassar yang penuh liku garis usia.
Makassar, Oktober 08
di sini, di Makassar.
kota ini perlahan tenggelam di bibir gadis-gadis
berwajah muram
sebentar nadinya berdegub, sebentar kemudian
lemah dan sayup
tak ubahnya kura-kura yang tertatih-tatih
memanggul beban bertumpuk-tumpuk.
Tuliskan namanya dengan jelas dan benar, Makassar
tembok-tembok tumbuh teramat rapat dan tiba-tiba
sementara luka perang saudara bertahun-tahun
masih lebar menganga.
Sungai Tello dapat kau pakai bercermin
Karebosi barangkali tak akan pernah mengering
jalanan dilebarkan, dibelah
dan disusun di puncak topang tinggi
tentu kau tahu di sudut mana aku kerap menulis puisi.
Di Makassar, kartuposmu tak akan tersasar, percayalah
sebab masih ada orang-orang berwajah ramah
harga senyum murah, walau harga sembako
mahal dan menggila seperti kuda terbakar buntutnya.
Benar di sini banyak pencopet, maling,
penodong, preman pasar dan mahasiswa
namun kabar gembiranya, di kota ini masih
ada penyair seperti aku
dan pengemis telah dilarang meminta-minta.
Kelak, setelah kartuposmu tiba
segera akan kukirim balasan
sehelai kartupos juga, bergambar
wajah makassar yang penuh liku garis usia.
Makassar, Oktober 08
Langganan:
Postingan (Atom)