Selasa, 11 Desember 2007

selamat pagi tuan tentakel

menarilah dengan sedikit tchaikovsky
dan di tanganmu gelas kecil kosong berbau wiski
begitu bangun pagi kau mematut diri
di depan cermin sambil berkata, "oh, andai beberapa
helai rambut memenuhi kepalaku yang persegi."

selamat tinggal klarinet dan apa kabar krabby patty
socrates pendongkol ini akan duduk di belakang
mesin kasir kembali untuk memanggil, "pesanan satu lagi!"

ah, bosmu yang malang. masih saja dia berpikir
lukisan kerang pada lembaran lima dolar
adalah karya seni paling tinggi abad ini.
dan anak kecil berwarna kuning di dapur yang
masih percaya kalau kehidupan dapat disusun
dari lapisan imajinasi.

selamat pagi tuan tentakel, selamat pagi
masuklah kerja hari ini
sepanjang tahun tanpa cuti

Senin, 10 Desember 2007

janji bertemu jimmy neutron di retroville

hal pertama yang akan kukatakan sesampainya kau di sini adalah: bukankah warna kuning yang menyepuh langit kota ini hampir tak begitu berbeda dengan warna tembaga? itu, unsur bernomor 29, berlambang Cu dan berbobot 63,546 gram dalam tabel sistem periodik. kita takkan membahasnya nanti karena aku tak suka kimia. hanya saja, agar tak terlihat tolol di depanmu, sepanjang perjalanan menuju kota ini aku membaca sedikit informasi sains dari sebuah jurnal ilmiah. wah, aku baru tahu kalau tembaga mempengaruhi kerja sistem pernapasan manusia--eh, tirosinase dan silokron oksidasi itu apa, sih? oke, kita membahas tentang itu sedikit nanti.

sebagai tempat pertemuan kita, aku memilih taman dekat sekolah. hari ini aku tak ingin makan di candy bar. aku malas mendengar ocehan sam, atau melihat seragam kerjanya yang bergaya yankee. lagi pula, aku ingin menggosipkan lajang tua itu. betah juga dia, padahal setahuku ibu fowl sudah minta dilamar. eh, tebak-tebakan, yuk! berapa jumlah garis di kaus mcspangky?

baiklah, sudah pukul 17.35, seorang ilmuwan takkan mempermainkan janji, walau banyak yang senang mempermainkan waktu. omong-omong; kau, aku dan einstein ternyata lahir pada tanggal dan bulan yang sama. menurutmu dia bohong tidak soal waktu? yeah, waktu itu paralel, bukan liniear katanya, tak mustahil kita bisa melompat dari dimensi waktu satu ke dimensi waktu lain. atau aku yang salah membaca? andai bisa, sungguh menyenangkan mengubah masa lalu. melawat ke suatu bagian waktu untuk membatalkan sebuah keputusan yang paling kusesali. aku takkan bertemu dia dan jatuh cinta padanya. tanpa repot aku dapat menghapus kenangan-kenangan buruk, membiarkannya kosong atau menggantinya dengan yang indah-indah. terserah aku.

walau tak pernah berkata, "je pense donc je suis" kau tetap mengingatkanku pada descartes. ya, filsuf itu. suka filsafat? kalian mirip, "think, think, think" rasio adalah segalanya. hmm, menguasai sains menjadikan kita tak ubahnya tuhan yang angkuh. tahu episode favoritku? saat kau ubah retroville dari sebuah kota kecil menjadi pemukiman cro-magnon persis di zaman beku. jalanan dilapisi es setebal sepuluh meter waktu itu. dan oleh warga kau dikejar-kejar sebagai binatang buruan. masih ingin menjadi tuhan?

aku masih mengagumi warna langit kotamu. karya seorang seniman animasi hebat pasti. cuma aku tak suka dengan caranya menggambar kepalamu, gigi sheen dan bintik-bintik merah di wajah karl. namun terus terang, semoga kau tak kecewa, aku mengagumi caranya menggambar cindy vortex. walau sinis, vortex manis, akuilah! kau pernah memasukkannya dalam mimpimu, sekali; menciumnya, sekali. menyukainya sesekali; membuatnya jengkel, berkali-kali. kata orang, batas antara benci dan cinta tipis sekali. sungguh, aku tak dapat seperti itu. mencintai di suatu saat, lalu membenci di saat lain. ah, anak-anak, mungkin seperti itu pikiran anak-anak. aku ingin jadi anak-anak kembali, masih ingat cara meracik ramuannya?

jim-jam, hehehe sesekali aku pun ingin menjadi seperti ayahmu, lelaki sederhana yang menyukai bebek dan mencintai istrinya, sangat sederhana walau tak sejenius anaknya. semoga dia tahu kau akan menghabiskan sore denganku, bukan sekadar mengajak jalan-jalan goodart atau mejaili cindy dan libby. ah, jangan-jangan kau lupa janji pertemuan kita. mengapa? apa sheen dan karl mengobrak-abrik laboratoriummu lagi? semoga tak ada ultra lord yang memimpin sekawanan llama. semoga tidak.

makassar, desember 07

Kamis, 29 November 2007

di sebuah kafe dekat pelabuhan

di kafe dekat pelabuhan itu
aku duduk sejak pukul tiga
lewat empat lima sore
dan memesan apa saja
untuk bisa melupakanmu
tapi cuma kopi susu
dan roti bakar rasa keju
yang kutemukan di daftar menu
apa tak ada yang lain?

seorang pelayan berkaos abu-abu
menjawab: sebenarnya, dulu
kafe ini pernah menyediakan
hidangan laut bumbu kesedihan
lengkap dengan jus rasa kekosongan
tapi hanya sedikit yang beli
dan kami terus merugi

maka kupesan saja
segelas kopi tanpa susu
dan sekeping roti tanpa keju
biar sesekali hidup kunikmati seperti ini:
pahit dan tawar

di kafe dekat pelabuhan itu
aku duduk berhadap-hadapan
dengan bangku kosong
satu-satunya yang dapat kuajak bicara
selain pelayan dan sunyi, tentu saja.

aku dapat mendengar laut bergetar
dilalui kapal-kapal
ada yang datang, ada yang hilang
ada pertemuan dan ada yang betah
bicara dengan sunyi

mengapa begitu sulit?
mencintaimu berkali-kali
untuk melupakan mestinya cukup sekali

di kafe dekat pelabuhan itu
aku duduk, meremas gelas, lalu sadar
telah menghabiskan bergelas-gelas kopi
dan berpiring-piring roti tanpa isi
ketika pelayan itu mengingatkan
dini hari sebentar lagi
kafe akan tutup dan aku harus pergi

kukatakan padanya:
tak bisakah, untuk malam ini
kau membiarkanku menikmati
rasa sakit, sendiri?

pelayan itu tersenyum
sanyum yang terlampau sabar
untuk seorang pelanggan cengeng seperti aku
kau tahu, ujarnya setelah jeda beberapa saat
aku pikir kaulah yang sedang mendera dirimu sendiri
maka pulanglah, tidur dan tolong jangan bermimpi

aku turuti sarannya
membayar semua makanan dan minuman
dan bersiap pulang untuk rebah
di ranjang yang mungkin telah jengah
dengan bau tubuh, airmata dan keluhan
yang itu-itu saja

pelayan berkaos abu-abu itu
menyodorkan sesuatu terbungkus
kantong plastik hitam padaku
ini roti rasa keju, gratis, bisiknya
sesekali nikmatilah hidup seperti ini:
manis, asin dan asing.

makassar, november 07

Jumat, 23 November 2007

entah berapa kali malam kuhabiskan seperti ini

entah berapa kali malam kuhabiskan seperti ini
menghitung bulir embun yang terbentuk di pucuk-pucuk
tiap daun, tiap dahan pekarangan kusam berwarna lukisan

lalu kucari diriku sendiri dalam sunyi paling puisi
tempat, yang entah bagaimana, selalu kutemukan namamu,
matamu dan lubang selebar bulan yang pernah kautinggalkan di jantungku

aku suka akan cara malam mengajariku mencintai
sama halnya puisi mengajariku cara melupakan
cinta adalah hitam yang malam, bukan putih,
bukan ungu, bukan merah jambu

entah berapa kali malam kuhabiskan seperti ini
pada jalan beraspal, bukan berbatu
lampu-lampu di pucuk tiang padam satu-satu
aku berjalan sambil mengucap namamu
lalu mencintaimu, lalu berhenti
untuk kemudian melupakanmu

makassar, november 07

sihir tardji dan korek api




paman tardji, paman tardji
aku letih, aku letih

korek api, korek api
aku serpih, aku serpih

makassar, november 07

Kamis, 22 November 2007

Bermain-main lagi

Tak ada sajak beberapa hari terakhir ini. Sama-sama buntu. Aku dan Aan, seperti biasa, sepakat bermain. Berikut hasil main-mainku. Hasil main-main Aan bisa dibaca di sini.

Kata-kata berikut harus kami buat jadi sebuah sajak:

- baju kotor,
- mobil ambulans,
- karpet hijau,
- kaleng kosong,
- abu rokok,
- jam pasir.

lelaki muda dan benda-benda di kamarnya

inilah sebabnya aku pilih mempercayaimu,
bisik lelaki muda itu pada jam pasir di sudut kamar
angka-angka tak pernah jadi istri yang setia
yang senantiasa meminta suaminya tidur lebih awal saat malam
agar dapat membisikkan kalimat 'sarapanmu sudah siap, sayang'
pada esok paginya seusai bercinta.

inilah sebabnya aku tabah mendengarmu
ucap lelaki muda itu pada kaleng kosong tempat menadah
rembesan hujan dari atap yang bocor
detak detik seperti mimpi buruk berisi oceh anak-anak
yang banyak menuntut
minta ini dan itu tanpa pernah bertanya, berapa banyak
puisi bapak yang berhasil disulap jadi uang hari ini.

inilah sebabnya aku betah mendengusmu,
ujar lelaki muda itu pada lusuh lesu baju kotor
yang bergelantungan pada pepaku di daun pintu
abu sisa obat nyamuk memaksaku bergegas
menutup mimpi yang belum tamat
mimpi mencium gadis paling manis
yang ingin kujadikan istri meskipun matanya
rabun dan penyakitan.

inilah sebabnya aku tahan merebahkan tubuhku pada tubuhmu,
gumam lelaki muda itu pada abu rokok menyalju di karpet hijau
karena suatu saat aku pasti pergi tanpa jemputan,
atau nyanyian, atau sirene mobil ambulan
tanpa koran-koran memberitakan tragedi seorang penyair
yang mati bujangan.


Tak puas. kami lanjutkan permainan. Tantangannya harus lebih.

Kata-kata berikut harus kami buat jadi sebuah sajak:

- majalah bekas,
- kamar pas,
- bulu ketiak,
- hari jumat,
- pemantik api,
- ibu hamil,
- gantungan kunci,
- kaki kuda.

majalah bekas

sengaja kau beli majalah bekas itu
sekadar untuk tahu ada peristiwa apa
dua tahun lalu, di hari pernikahanmu

halaman 3-7:
sebuah wawancara dengan lima artis perempuan
korban pencabulan di kamar pas
sebuah studio pemotretan

halaman 8-9:
berita seorang ibu hamil tewas gantung diri
setelah harga susu berlipat tiga kali
masih di halaman yang sama
catatan kecil empat kolom
tentang seorang lelaki yang menangis
entah tangis sedih untuk istrinya yang mati
atau untuk sebuah kesempatan kawin lagi

halaman-halaman selanjutnya:
nyaris tak ada yang menarik
kecuali iklan gantungan kunci
yang juga berfungsi sebagai pemantik api
aneka bentuk; kaki kuda, bunga dahlia
atau kepala mantan presiden yang tetap tersenyum
setelah beberapa kali bebas pengadilan korupsi
(siapa mau beli?)

ah, masih ada satu lagi
halaman terakhir:
renungan hari jumat
tentang pentingnya membersihkan diri
menggunting kuku, mencukur kumis
dan bulu ketiak yang benar
seperti anjuran nabi

ternyata, simpulmu, selain pernikahanku
tak ada peristiwa penting terjadi hari itu.

makassar, november 07

ah, setelah membaca sajakmu, aku akui aku kalah, An!

Rabu, 21 November 2007

Ruang Istirah dalam Sajak Inez Dikara

Kita banyak menemukan penyair yang lihai bersajak pendek, namun sering kali terjungkal dalam guratan sajak-sajak panjang. Sebaliknya pun begitu.

Menulis sebuah sajak pendek lebih mudah ketimbang membuat yang panjang, inilah kesalahan yang telah lama kaprah dalam benak masyarakat awam. Sajak pendek bagaimanapun memiliki sisi-sisi yang tak dapat diabaikan. Menuliskannya tak berarti lepas dari bahaya. Salah-salah, penyair dapat terjebak dalam kedangkalan berbahasa. Secara gamblang saya berpendapat, kekuatan sajak panjang ada pada narasi, sedang kekuatan sajak pendek terletak dalam susunan kontemplasi. Sekali lagi, kalimat yang baru saja saya sampaikan tadi adalah sebuah pendapat yang belum layak dijadikan patokan.

Dalam ranah persajakan kontemporer indonesia, cukup ramai nama-nama penyair yang dikenal terampil menggunakan majas dan matra dalam berbagai metode, guna mencipta sajak-sajak pendek yang gurih. Beberapa, seperti Joko Pinurbo, gemar menggunakan ironi-ironi segar. Sementara Ook Nugroho atau Raudhal Tanjung Banua misalnya, aktif mencipta kesan-kesan metafisik. Di lini terakhir, segelintir penyair lainnya masih belum bosan mengolah tema-tema lama. Lanskap.

Inez dikara adalah salah satu dari segelintir itu. Sajak-sajaknya kebanyakan berawal atas kekaguman terhadap situasi alam sekitar. Saya memang belum sempat mewawancarainya secara langsung, tapi kesan itu acap saya tangkap lewat beberapa sajaknya.

Misalnya satu sajak di bawah ini:

sebuah galeri di sudut kota
gending jawa dan
kursi-kursi menyendiri
di halaman
meredup lampu-lampu dalam kurungan

malam begitu dahaga
ia coba teguk segala ingatan

(Sogan Village, Inez Dikara)


Rasakan usaha sang penyair memindahkan suasana malam yang visual dalam sepotong sajak yang literal. Penyair benar-benar bicara soal galeri di sudut kota, bukan yang lain. Tentang sesuatu, bukan seseorang. Sebuah sajak pendek yang kembali pada fitrahnya; tidak antroposentris, melainkan kosmosentris.

sebuah galeri di sudut kota
gending jawa dan
kursi-kursi menyendiri
di halaman
meredup lampu-lampu dalam kurungan

Tak perlu bertanya, sajak ini tentang 'kota' mana. Sebab selanjutnya, 'gending jawa' telah memberitahukan pembaca tempatnya. 'Galeri' kemudian menyempitkan mata pembaca sebelum liar meraba-raba. Semakin sempit ketika Inez menyajikan 'kursi-kursi', 'halaman', berikut 'lampu-lampu' lengkap dengan 'kurungan'-nya.

Sekarang, pembaca tinggal memilih, benda mana yang ingin disentuh. Saya pribadi akan memilih kursi sebagai perlambang rasa nyaman, tempat perenungan, atau wahana istirah yang damai. Ingin memilih lampu-lampu yang redup pun tak mengapa, meski ia terlihat suram. Jelasnya, inez membebaskan pembaca. Inez menghadirkan segala yang pernah tampak di matanya.

Lantas, di mana letak kontemplasi sajak ini? Simak lanjutannya:

malam begitu dahaga
ia coba teguk segala ingatan

Anda telah duduk? Sudah merasa nyaman dengan kesunyian? Dengan keremangan? Sekarang waktunya bersulang bersama malam. Malam yang dahaga. Malam yang haus akan ingatan. Apapun warna ingatan itu. Silahkan duduk dan merenung-renung sendiri. Gali kembali sumur ingatan anda sedalam-dalamnya. Sekarang, bagilah kenangan dan ingatan itu dengan malam. Malam yang dahaga.

Alih-alih memunculkan sebuah kontemplasi penting dalam sajak, Inez malah mengajak pembaca berkontemplasi lebih dalam. Bukan sesuatu yang disodorkannya matang-matang, tapi sebuah jalan untuk mencapai titik puncak perenungan. Itulah salah satu fungsi sajak atau puisi. Sebuah sajak mestinya rendah hati. Tidak sok berilmu dan menggurui (atau membodohi) pembacanya. Dengan mengikuti gaya inez bercerita lewat sajak, kita terdorong untuk merenungkan sesuatu melalui jalur yang sudah dibangun. Semuanya, termasuk para pemalas yang apriori.

Tak perlu saya berkoar-koar banyak soal rapihnya struktur fisik sajak ini. Seakan sengaja, semua benda-benda kongkret diletakkan larik per larik pada bait pertama, /1/ galeri, /2/ gending jawa, /3/ kursi-kursi, /4/ halaman, /5/ lampu-lampu. Lantas menumpuk kesan malam yang bersinestesia dengan indera lidah (dahaga) pada bait kedua. Dengan bentuk seperti ini, pembaca benar-benar diberikan jeda untuk setelahnya merenung lagi lebih dalam.

Jelasnya, sajak-sajak inez bukan sebuah pergulatan yang melelahkan, melainkan peristirahatan yang menenangkan. Tak perlu berpikir rumit untuk mencerna sajak-sajaknya. Cukup merenunglah di suasana paling nyaman. Lebih dalam.

(selengkapnya tentang Inez Dikara)