Kita banyak menemukan penyair yang lihai bersajak pendek, namun sering kali terjungkal dalam guratan sajak-sajak panjang. Sebaliknya pun begitu.
Menulis sebuah sajak pendek lebih mudah ketimbang membuat yang panjang, inilah kesalahan yang telah lama kaprah dalam benak masyarakat awam. Sajak pendek bagaimanapun memiliki sisi-sisi yang tak dapat diabaikan. Menuliskannya tak berarti lepas dari bahaya. Salah-salah, penyair dapat terjebak dalam kedangkalan berbahasa. Secara gamblang saya berpendapat, kekuatan sajak panjang ada pada narasi, sedang kekuatan sajak pendek terletak dalam susunan kontemplasi. Sekali lagi, kalimat yang baru saja saya sampaikan tadi adalah sebuah pendapat yang belum layak dijadikan patokan.
Dalam ranah persajakan kontemporer indonesia, cukup ramai nama-nama penyair yang dikenal terampil menggunakan majas dan matra dalam berbagai metode, guna mencipta sajak-sajak pendek yang gurih. Beberapa, seperti Joko Pinurbo, gemar menggunakan ironi-ironi segar. Sementara Ook Nugroho atau Raudhal Tanjung Banua misalnya, aktif mencipta kesan-kesan metafisik. Di lini terakhir, segelintir penyair lainnya masih belum bosan mengolah tema-tema lama. Lanskap.
Inez dikara adalah salah satu dari segelintir itu. Sajak-sajaknya kebanyakan berawal atas kekaguman terhadap situasi alam sekitar. Saya memang belum sempat mewawancarainya secara langsung, tapi kesan itu acap saya tangkap lewat beberapa sajaknya.
Misalnya satu sajak di bawah ini:
sebuah galeri di sudut kota
gending jawa dan
kursi-kursi menyendiri
di halaman
meredup lampu-lampu dalam kurungan
malam begitu dahaga
ia coba teguk segala ingatan
(Sogan Village, Inez Dikara)
Rasakan usaha sang penyair memindahkan suasana malam yang visual dalam sepotong sajak yang literal. Penyair benar-benar bicara soal galeri di sudut kota, bukan yang lain. Tentang sesuatu, bukan seseorang. Sebuah sajak pendek yang kembali pada fitrahnya; tidak antroposentris, melainkan kosmosentris.
sebuah galeri di sudut kota
gending jawa dan
kursi-kursi menyendiri
di halaman
meredup lampu-lampu dalam kurungan
Tak perlu bertanya, sajak ini tentang 'kota' mana. Sebab selanjutnya, 'gending jawa' telah memberitahukan pembaca tempatnya. 'Galeri' kemudian menyempitkan mata pembaca sebelum liar meraba-raba. Semakin sempit ketika Inez menyajikan 'kursi-kursi', 'halaman', berikut 'lampu-lampu' lengkap dengan 'kurungan'-nya.
Sekarang, pembaca tinggal memilih, benda mana yang ingin disentuh. Saya pribadi akan memilih kursi sebagai perlambang rasa nyaman, tempat perenungan, atau wahana istirah yang damai. Ingin memilih lampu-lampu yang redup pun tak mengapa, meski ia terlihat suram. Jelasnya, inez membebaskan pembaca. Inez menghadirkan segala yang pernah tampak di matanya.
Lantas, di mana letak kontemplasi sajak ini? Simak lanjutannya:
malam begitu dahaga
ia coba teguk segala ingatan
Anda telah duduk? Sudah merasa nyaman dengan kesunyian? Dengan keremangan? Sekarang waktunya bersulang bersama malam. Malam yang dahaga. Malam yang haus akan ingatan. Apapun warna ingatan itu. Silahkan duduk dan merenung-renung sendiri. Gali kembali sumur ingatan anda sedalam-dalamnya. Sekarang, bagilah kenangan dan ingatan itu dengan malam. Malam yang dahaga.
Alih-alih memunculkan sebuah kontemplasi penting dalam sajak, Inez malah mengajak pembaca berkontemplasi lebih dalam. Bukan sesuatu yang disodorkannya matang-matang, tapi sebuah jalan untuk mencapai titik puncak perenungan. Itulah salah satu fungsi sajak atau puisi. Sebuah sajak mestinya rendah hati. Tidak sok berilmu dan menggurui (atau membodohi) pembacanya. Dengan mengikuti gaya inez bercerita lewat sajak, kita terdorong untuk merenungkan sesuatu melalui jalur yang sudah dibangun. Semuanya, termasuk para pemalas yang apriori.
Tak perlu saya berkoar-koar banyak soal rapihnya struktur fisik sajak ini. Seakan sengaja, semua benda-benda kongkret diletakkan larik per larik pada bait pertama, /1/ galeri, /2/ gending jawa, /3/ kursi-kursi, /4/ halaman, /5/ lampu-lampu. Lantas menumpuk kesan malam yang bersinestesia dengan indera lidah (dahaga) pada bait kedua. Dengan bentuk seperti ini, pembaca benar-benar diberikan jeda untuk setelahnya merenung lagi lebih dalam.
Jelasnya, sajak-sajak inez bukan sebuah pergulatan yang melelahkan, melainkan peristirahatan yang menenangkan. Tak perlu berpikir rumit untuk mencerna sajak-sajaknya. Cukup merenunglah di suasana paling nyaman. Lebih dalam.
(selengkapnya tentang Inez Dikara)
Tampilkan postingan dengan label ulasan tak puitis tentang puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ulasan tak puitis tentang puisi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 21 November 2007
Selasa, 18 September 2007
Cinta yang Bersahaja dalam Kesederhanaan Sajak Pakcik Ahmad
PAKCIK AHMAD, belum begitu lama aku mengenalnya. itu pun baru sebatas bertemu di dunia maya--lewat blog. menikmati sajak-sajaknya yang ringkas namun padat membawaku kembali belajar filsafat. terutama filsafat cinta.
simaklah sajaknya berikut:
Dua Belas
selamanya cinta sangat mudah dipahami
pada batu yang menjadi dewasa oleh tetesan air
atau sumbu yang langka di bara lilin
: mengapa mata kita masih saja menjadi tuli ?
*ciputat 040807 ~ 12 tahun kami
---------------------------------------------------------------------
selamanya cinta sangat mudah dipahami
dengan berpisaukan larik ini pakcik telah berhasil melakukan dua hal; mematahkan pameo tua: love is complicated-- cinta itu rumit--, sekaligus membuatku merenung lama. jika ia sangat mudah dipahami, lantas mengapa persoalan cinta bagiku masih juga teramat sukar dimengerti? nyatanya cinta tak dapat dibahas secara matematis, diuji klinis dan dipaparkan menggunakan metode-metode saintis. ketika cinta coba dibawa ke dalam majelis ilmiah, esensinya sontak mendadak kering. dan ia bukan lagi sesuatu yang teramat elok dan manis. pendeknya larik ini memunculkan sebuah konklusi: cinta yang tak bisa dipahami adalah cinta yang sama sekali tidak dijalani.
pada batu yang menjadi dewasa oleh tetesan air
nah! untuk memahami cinta, pakcik kemudian memintaku belajar pada batu yang "dewasa" oleh tetesan air. tetes demi tetes air yang mengikis membentuk ceruk pada batu. sekilas si batu terlihat merana. namun pakcik sekali lagi membuatku tercenung. ia memunculkan sebuah fakta baru, bahwa ceruk pada batu adalah sebuah pertanda kedewasaan. seperti jakun pada lelaki dan payudara untuk perempuan. di sini bentuk fisik tak menjadi penting. pakcik berusaha memperlihatkan kedewasaan yang tangguh pada batu yang didera tetesan air terus-menerus.
atau sumbu yang langka di bara lilin
luarbiasa! sudut ini terlihat begitu memukau. dan jika seseorang menafsirkannya secara dangkal niscaya si penafsir akan terjungkal. bayangkanlah cinta lebih mudah dipahami pada sumbu yang dilahap bara lilin, ketimbang pijaran bohlam dengan kawat tungstennya yang tahan panas. jelas pakcik berusaha menitikberatkan pada persoalan pengorbanan. agar lilin terus menyala, maka sumbu mesti terbakar.
: mengapa mata kita masih saja menjadi tuli ?
ayolah, setelah memintaku belajar cinta pada batu dan sumbu, kali ini engkau balik mengejekku, pakcik. dan bukan hanya aku, banyak orang yang sekadar memahami cinta seadanya harus pula tersindir oleh larik ini. lihatlah, pakcik tidak berkata: hati kita buta dan tuli-- sebuah ungkapan klise yang jika digunakan tentu akan merusak sajak ringkas nan gagah ini. tapi mata (penglihatan) dan tuli (pendengaran) yang disatukan. mungkin larik ini terlahir gara-gara proses kelahiran cinta itu sendiri; lelaki jatuh cinta lewat mata, perempuan jatuh cinta lewat telinga. sebuah larik yang mengingatkan kita lagi akan cinta yang universal. bukan soal lelaki yang jatuh cinta pada perempuan atau pun sebaliknya.
*ciputat 040807 ~ 12 tahun kami
terima kasih pakcik, ketimbang mengguruiku soal cinta, alih-alih kau memintaku belajar pada batu dan sumbu. dua jenis benda sederhana yang jarang dibahas oleh sajak. pesan moral yang barangkali: jika kita berpikir secara sederhana, belajar lewat hal-hal sederhana, maka sesuatu yang rumit akan terlihat lebih bersahaja.
tentang pakcik: Entah kekuatan magis apa yang menyelipkan mantra dan jampi-jampi ke diriku sehingga kata begitu menyihir. (aku cuma menemukan tulisan ini di blognya.)
simaklah sajaknya berikut:
Dua Belas
selamanya cinta sangat mudah dipahami
pada batu yang menjadi dewasa oleh tetesan air
atau sumbu yang langka di bara lilin
: mengapa mata kita masih saja menjadi tuli ?
*ciputat 040807 ~ 12 tahun kami
---------------------------------------------------------------------
selamanya cinta sangat mudah dipahami
dengan berpisaukan larik ini pakcik telah berhasil melakukan dua hal; mematahkan pameo tua: love is complicated-- cinta itu rumit--, sekaligus membuatku merenung lama. jika ia sangat mudah dipahami, lantas mengapa persoalan cinta bagiku masih juga teramat sukar dimengerti? nyatanya cinta tak dapat dibahas secara matematis, diuji klinis dan dipaparkan menggunakan metode-metode saintis. ketika cinta coba dibawa ke dalam majelis ilmiah, esensinya sontak mendadak kering. dan ia bukan lagi sesuatu yang teramat elok dan manis. pendeknya larik ini memunculkan sebuah konklusi: cinta yang tak bisa dipahami adalah cinta yang sama sekali tidak dijalani.
pada batu yang menjadi dewasa oleh tetesan air
nah! untuk memahami cinta, pakcik kemudian memintaku belajar pada batu yang "dewasa" oleh tetesan air. tetes demi tetes air yang mengikis membentuk ceruk pada batu. sekilas si batu terlihat merana. namun pakcik sekali lagi membuatku tercenung. ia memunculkan sebuah fakta baru, bahwa ceruk pada batu adalah sebuah pertanda kedewasaan. seperti jakun pada lelaki dan payudara untuk perempuan. di sini bentuk fisik tak menjadi penting. pakcik berusaha memperlihatkan kedewasaan yang tangguh pada batu yang didera tetesan air terus-menerus.
atau sumbu yang langka di bara lilin
luarbiasa! sudut ini terlihat begitu memukau. dan jika seseorang menafsirkannya secara dangkal niscaya si penafsir akan terjungkal. bayangkanlah cinta lebih mudah dipahami pada sumbu yang dilahap bara lilin, ketimbang pijaran bohlam dengan kawat tungstennya yang tahan panas. jelas pakcik berusaha menitikberatkan pada persoalan pengorbanan. agar lilin terus menyala, maka sumbu mesti terbakar.
: mengapa mata kita masih saja menjadi tuli ?
ayolah, setelah memintaku belajar cinta pada batu dan sumbu, kali ini engkau balik mengejekku, pakcik. dan bukan hanya aku, banyak orang yang sekadar memahami cinta seadanya harus pula tersindir oleh larik ini. lihatlah, pakcik tidak berkata: hati kita buta dan tuli-- sebuah ungkapan klise yang jika digunakan tentu akan merusak sajak ringkas nan gagah ini. tapi mata (penglihatan) dan tuli (pendengaran) yang disatukan. mungkin larik ini terlahir gara-gara proses kelahiran cinta itu sendiri; lelaki jatuh cinta lewat mata, perempuan jatuh cinta lewat telinga. sebuah larik yang mengingatkan kita lagi akan cinta yang universal. bukan soal lelaki yang jatuh cinta pada perempuan atau pun sebaliknya.
*ciputat 040807 ~ 12 tahun kami
terima kasih pakcik, ketimbang mengguruiku soal cinta, alih-alih kau memintaku belajar pada batu dan sumbu. dua jenis benda sederhana yang jarang dibahas oleh sajak. pesan moral yang barangkali: jika kita berpikir secara sederhana, belajar lewat hal-hal sederhana, maka sesuatu yang rumit akan terlihat lebih bersahaja.
tentang pakcik: Entah kekuatan magis apa yang menyelipkan mantra dan jampi-jampi ke diriku sehingga kata begitu menyihir. (aku cuma menemukan tulisan ini di blognya.)
Langganan:
Postingan (Atom)