I. Selamat pagi, Lelaki. Kau bangun lebih awal dibanding alarm telepon genggam yang kau aktifkan semalam. Masih banyak waktu sebelum subuh jingga kental yang terperangkap di bingkai jendela itu mengelupas jadi pagi berwajah pucat.
II. Tapi kau lebih memilih menunggu menit demi menit berangsur dari ranjangmu ketimbang berdiri mematung di depan jendela. Kau takut pada sesuatu yang disembunyikan jendela, bukan? Sesuatu yang sewaktu-waktu dapat tiba-tiba menyergap-rampas rahasia yang sudah susah payah kau abadikan.
III. Semalam bukan tidur paling menyenangkan buatmu. Kau diganggu batuk dan nyeri dada. Diganggu bantal, seprai, selimut dan kasur yang sepakat berlomba menirukan irama degub jantungnya. Diganggu riuh kipas angin yang mengantarkanmu pada mimpi tentang gemuruh kecelakaan di udara. Hei, lihat! Subuh yang terperangkap di bingkai jendela itu sekarang telah jadi pagi berwajah pucat.
IV. Seperti pagi kemarin dan kemarin, kau merapikan kamarmu; mematikan kipas angin, menata kembali bantal, seprai, selimut, dan kasur. (Mereka masih pulas mendengkur, capai setelah semalaman berpesta baju tidur) “Selamat melanjutkan tidur, kawan-kawanku yang nakal,” bisikmu.
V. Alarm di telepon genggam yang mestinya membangunkanmu itu akhirnya membangunkan dirinya sendiri. Tergesa-gesa kau membisukan bunyi alarm yang menjeritkan refrain “it’s oh so quiet” itu, sebelum seisi kamar terbangun dan menggerutu. Ah, kau masih saja senang mengulang pertanyaan Bjork di akhir lagu itu, “so what's the use of falling in love?
VI. Satu SMS masuk belum dibaca. SMS yang kau belum akan membalasnya. Kau tahu benar, sepagi ini dia tak akan mengirim SMS kepadamu, sebab kau dan dia telah terlanjur sepakat tak akan saling membangunkan di pagi hari untuk membiarkan masing-masing tidur sepuasnya, bermimpi sepuasnya dan saling memimpikan sepuasnya. Pula kau dan dia telah berjanji untuk tidak saling menyimpan potret di telepon genggam satu sama lain, agar kau dan dia bisa leluasa mencintai kangen, mencintai mimpi, mencintai tidur.
VII. Kecuali pagi ini. Kau sedikit tergoda menulis kalimat, "selamat pagi, perempuanku." di layar telepon genggammu. Hanya perlu menekan sebuah tombol di sebelah kiri, beberapa tombol angka, dan keberanian yang tak memiliki tombol. Tapi kau tak melakukan apa-apa selain menatap telepon genggam itu saja, dan lalu meletakkannya kembali seraya bergumam: “Cuma 26 karakter. Aku cuma berjarak 26 karakter darimu, Sayang.”
VIII. Kau kemudian meraih handuk dari gantungan, memutar keran dan mengisi bak mandi. Cukup lama kau berdiri sambil menyentuh-nyentuhkan ujung jarimu pada air yang sementara terkucur itu. Setelah itu kau menatapi dirimu yang tengah bersetengah-telanjang dalam bak mandi. Aneh benar kau, Lelaki. Kau takut pada jendela, tapi akrab sekali dengan bak mandi.
Makassar, April 2009
Sabtu, 18 April 2009
Kamis, 16 April 2009
Di Pantai, Kita Berandai
Di pantai itu, kita berandai, kau sebagai senja dan aku adalah hujan yang saling menghangatkan sekaligus membasahi, saling genggam, saling peluk sebentar sekali buat melepaskan rindu yang telah lama tak terlepaskan ini.
Duhai, betapa cuaca yang bingung membuat rupamu berantakan begini, ucapmu sembari mengusap bibirku yang baru saja memerah-jingga-kuning-hija
Duhai, betapa cuaca yang bingung membuat rupamu berantakan begini, ucapmu sembari mengusap bibirku yang baru saja memerah-jingga-kuning-hija
u-biru-nila-ungukan sepotong garis lengkung di pipimu.
Makassar, April 09
Makassar, April 09
Selasa, 24 Maret 2009
Pintu dan Tali Sepatu
--Pintu--
PINTU itu hanya sebuah pintu biasa.
Dibuat dari kayu yang kekurangan ukiran
dan kualitasnya barangkali tak begitu istimewa.
Pintu itu milik sebuah kamar rumah sakit yang memisahkan antara
ruangan pasien miskin dan ruangan pasien berada.
Dingin, keras, putih sedikit kusam,
pintu itu kadang memandangiku penuh selidik dan curiga.
“Pulanglah!” hardiknya suatu ketika, “jangan berani sakit kalau kau tak kaya.”
*
Mengapa kita hanya diajarkan mengetuk pintu saat masuk saja, dan tidak saat keluar?
Mungkin karena memasuki sesuatu itu lebih mudah
--seperti kau memasuki pintu pikiranku
dan keluar dari sesuatu itu lebih sulit
--sama sulitnya bagiku mengeluarkanmu lewat pintu yang sama
Kau keluar lewat pintu yang putih dan angkuh itu tanpa mengetuknya lebih dulu. Muncul bak peri, kau mendapatiku sedang berlutut mengikat tali sepatu.
--Tali sepatu--
Sederhana sekali sebenarnya;
1) samakan kedua ujung tali sepatu itu,
2) buatlah sejalin ikatan longgar, dan
3) kuatkan dengan sebuah simpul kupu-kupu.
Tiga tahap sederhana yang tak pernah becus kukerjakan
Bahkan sampai saat ini; saat ukuran kakiku telah mencapai 9 inci.
Tali sepatuku selalu saja terurai walau aku yakin
telah mengikatnya dengan kencang dan benar.
Dahulu, ketika kali pertama aku menyelesaikan ikatan tali sepatuku sendiri, ibuku tersenyum dan berkata sudah saatnya aku pergi sekolah tanpa ditemani. Mungkin tali sepatu adalah pertanda kedewasaan.
Ah, tahukah kau? aku senantiasa memimpikan
kelak dirimu yang akan melepaskan tali sepatuku
kalau-kalau aku merasa terlalu lelah melakukannya sendiri.
*
Aku tengah berlutut mengikat tali sepatu saat kau keluar
dari pintu yang dingin dan sinis itu.
Dari bawah terlihat dagumu yang merah dan bulat purnama.
Tali sepatuku, ajaibnya, telah terikat dengan sempurna.
Tahukah kau? Ada 34 cara mengikat tali sepatu.
Tapi aku hanya tahu satu cara jatuh cinta kepadamu.
Makassar, Maret 09
PINTU itu hanya sebuah pintu biasa.
Dibuat dari kayu yang kekurangan ukiran
dan kualitasnya barangkali tak begitu istimewa.
Pintu itu milik sebuah kamar rumah sakit yang memisahkan antara
ruangan pasien miskin dan ruangan pasien berada.
Dingin, keras, putih sedikit kusam,
pintu itu kadang memandangiku penuh selidik dan curiga.
“Pulanglah!” hardiknya suatu ketika, “jangan berani sakit kalau kau tak kaya.”
*
Mengapa kita hanya diajarkan mengetuk pintu saat masuk saja, dan tidak saat keluar?
Mungkin karena memasuki sesuatu itu lebih mudah
--seperti kau memasuki pintu pikiranku
dan keluar dari sesuatu itu lebih sulit
--sama sulitnya bagiku mengeluarkanmu lewat pintu yang sama
Kau keluar lewat pintu yang putih dan angkuh itu tanpa mengetuknya lebih dulu. Muncul bak peri, kau mendapatiku sedang berlutut mengikat tali sepatu.
--Tali sepatu--
Sederhana sekali sebenarnya;
1) samakan kedua ujung tali sepatu itu,
2) buatlah sejalin ikatan longgar, dan
3) kuatkan dengan sebuah simpul kupu-kupu.
Tiga tahap sederhana yang tak pernah becus kukerjakan
Bahkan sampai saat ini; saat ukuran kakiku telah mencapai 9 inci.
Tali sepatuku selalu saja terurai walau aku yakin
telah mengikatnya dengan kencang dan benar.
Dahulu, ketika kali pertama aku menyelesaikan ikatan tali sepatuku sendiri, ibuku tersenyum dan berkata sudah saatnya aku pergi sekolah tanpa ditemani. Mungkin tali sepatu adalah pertanda kedewasaan.
Ah, tahukah kau? aku senantiasa memimpikan
kelak dirimu yang akan melepaskan tali sepatuku
kalau-kalau aku merasa terlalu lelah melakukannya sendiri.
*
Aku tengah berlutut mengikat tali sepatu saat kau keluar
dari pintu yang dingin dan sinis itu.
Dari bawah terlihat dagumu yang merah dan bulat purnama.
Tali sepatuku, ajaibnya, telah terikat dengan sempurna.
Tahukah kau? Ada 34 cara mengikat tali sepatu.
Tapi aku hanya tahu satu cara jatuh cinta kepadamu.
Makassar, Maret 09
Selasa, 02 Desember 2008
Gadis Flu
Dia berkata, "Lurus saja
Terus di bagian utara gedung itu. Seorang gadis termangu, susah payah menghela nafasnya yang dibebani flu. Geliginya berwarna gading, matanya abu-abu, sesekali menatap ujung jalan seolah menunggu sesuatu."
Jawabku, "Ah, tiada siapa pun
Kecuali pohon-pohon yang menjaga jarak, tumbuh satu-satu, sementara dedaunan bundar kecilnya menghambur serupa serpih konfeti tahun baru. Mungkin bulan telah mengaburkan matamu. Di musim hujan seperti ini, bayangan bulan kadang serupa benar dengan bidadari yang menyepi dan menunggu."
Lalu dia menyanggah, "Tidak, lihatlah secermatnya
"Gadis itu membaca sebuah buku. Paling banyak dua halaman saja, sebab tak pernah aku melihatnya membuka halaman baru. Setiap kata seolah butuh dicernanya berjam-jam. Halaman buku, ujung jalan itu, halaman buku, ujung jalan itu, ujung jalan yang lain, lalu kembali ke halaman buku itu. Seolah-olah dia sedang menunggu sesuatu."
"Tak ada siapa-siapa," Tukasku,
"Kecuali bebangku pejal berjejal kesepian, semak dan ranting-ranting berjatuhan..."
"Sekarang lihatlah," sergahnya,
"Gadis itu menutup buku. Telunjuk tangan kanannya menyentuh kancing baju. Datang. Lalu meloncat ke kancing bajunya yang lain. Tak datang. Datang, tak datang, datang, tak datang. apakah kau yakin akan membiarkannya terus menunggu?"
Makassar, Desember 2008
Terus di bagian utara gedung itu. Seorang gadis termangu, susah payah menghela nafasnya yang dibebani flu. Geliginya berwarna gading, matanya abu-abu, sesekali menatap ujung jalan seolah menunggu sesuatu."
Jawabku, "Ah, tiada siapa pun
Kecuali pohon-pohon yang menjaga jarak, tumbuh satu-satu, sementara dedaunan bundar kecilnya menghambur serupa serpih konfeti tahun baru. Mungkin bulan telah mengaburkan matamu. Di musim hujan seperti ini, bayangan bulan kadang serupa benar dengan bidadari yang menyepi dan menunggu."
Lalu dia menyanggah, "Tidak, lihatlah secermatnya
"Gadis itu membaca sebuah buku. Paling banyak dua halaman saja, sebab tak pernah aku melihatnya membuka halaman baru. Setiap kata seolah butuh dicernanya berjam-jam. Halaman buku, ujung jalan itu, halaman buku, ujung jalan itu, ujung jalan yang lain, lalu kembali ke halaman buku itu. Seolah-olah dia sedang menunggu sesuatu."
"Tak ada siapa-siapa," Tukasku,
"Kecuali bebangku pejal berjejal kesepian, semak dan ranting-ranting berjatuhan..."
"Sekarang lihatlah," sergahnya,
"Gadis itu menutup buku. Telunjuk tangan kanannya menyentuh kancing baju. Datang. Lalu meloncat ke kancing bajunya yang lain. Tak datang. Datang, tak datang, datang, tak datang. apakah kau yakin akan membiarkannya terus menunggu?"
Makassar, Desember 2008
Selasa, 18 November 2008
Tirai
ANAK-ANAK adalah tirai yang tertiup angin.
Tirai adalah anak-anak yang terbantun angan.
Sore ini hujan. Hujan yang mulanya perlahan.
Tirai menyapa hujan lewat jendela,"apa kabar, hujan?"
"Baik-baik, tirai. Yuk, main," ajak hujan.
Tirai menggelengkan kepala.
Hujan adalah anak-anak yang bermain dan merdeka.
Tirai adalah anak-anak yang mengintip iri dari jendela.
"Ingat ya, tirai, jangan bermain dengan hujan.
Hujan itu kotor, jorok, nakal, sumber penyakit dan
malapetaka," gumam tirai pada dirinya sendiri.
Di luar jendela hujan bermain gundu dan sepakbola.
Di dalam kamar tirai bergelut rumus matematika.
"Yuk, main." ajak hujan sekali lagi,
tapi tirai tetap menggelengkan kepala.
"Ingat ya, tirai, banyak main itu kerjanya gelandangan.
Seperti hujan. Gelandangan itu tempatnya di jalan,
bukan rumah-rumah mewah atau gedung kantoran."
Di luar jendela kaki-kaki hujan menjadi cokelat
selepas berkejaran di atas rumput dan berenang di selokan.
Hujan adalah kegembiraan yang tergenang di jalanan,
sedang tirai adalah kesepian yang duduk di sofa
--sambil bercakap pada televisi yang bisa bicara
tapi tak sekali pun pernah menyahutnya.
"Ingat ya, tirai, dunia di luar jendela itu berbahaya.
Banyak kecelakaan, perampokan, pembunuhan,
perkosaan, penculikan..."
Tirai adalah anak-anak televisi
dan televisi adalah anak-anak yang berlagak dewasa.
Makassar, November 08
Tirai adalah anak-anak yang terbantun angan.
Sore ini hujan. Hujan yang mulanya perlahan.
Tirai menyapa hujan lewat jendela,"apa kabar, hujan?"
"Baik-baik, tirai. Yuk, main," ajak hujan.
Tirai menggelengkan kepala.
Hujan adalah anak-anak yang bermain dan merdeka.
Tirai adalah anak-anak yang mengintip iri dari jendela.
"Ingat ya, tirai, jangan bermain dengan hujan.
Hujan itu kotor, jorok, nakal, sumber penyakit dan
malapetaka," gumam tirai pada dirinya sendiri.
Di luar jendela hujan bermain gundu dan sepakbola.
Di dalam kamar tirai bergelut rumus matematika.
"Yuk, main." ajak hujan sekali lagi,
tapi tirai tetap menggelengkan kepala.
"Ingat ya, tirai, banyak main itu kerjanya gelandangan.
Seperti hujan. Gelandangan itu tempatnya di jalan,
bukan rumah-rumah mewah atau gedung kantoran."
Di luar jendela kaki-kaki hujan menjadi cokelat
selepas berkejaran di atas rumput dan berenang di selokan.
Hujan adalah kegembiraan yang tergenang di jalanan,
sedang tirai adalah kesepian yang duduk di sofa
--sambil bercakap pada televisi yang bisa bicara
tapi tak sekali pun pernah menyahutnya.
"Ingat ya, tirai, dunia di luar jendela itu berbahaya.
Banyak kecelakaan, perampokan, pembunuhan,
perkosaan, penculikan..."
Tirai adalah anak-anak televisi
dan televisi adalah anak-anak yang berlagak dewasa.
Makassar, November 08
Minggu, 16 November 2008
Botol
"AKU telah jatuh cinta pada setiap nafas dan batukmu,"
lirih botol obat batuk itu terbata-bata
tapi sang tahanan tak sedikit pun menghiraukannya.
Di sudut penjara, tahanan itu bersunyi saja
menjaga kapal mimpinya yang kunjung surut
digempur lautan batuk yang mengamuk.
Dua jam lepas tengah malam
pada akhirnya tahanan itu menyerah juga
botol itu direnggutnya tergesa, dicekiknya paksa.
"Persetan kapal mimpi. Persetan penjara ini!"
Raungnya sebelum menyesap kasar
cairan getir lewat bibir botol yang gemetar
"Cintai aku sewajarnya. Sewajarnya!"
Rintih botol obat batuk itu terengah-engah
tapi sang tahanan tak sedikit pun menghiraukannya.
Makassar, November 2008
lirih botol obat batuk itu terbata-bata
tapi sang tahanan tak sedikit pun menghiraukannya.
Di sudut penjara, tahanan itu bersunyi saja
menjaga kapal mimpinya yang kunjung surut
digempur lautan batuk yang mengamuk.
Dua jam lepas tengah malam
pada akhirnya tahanan itu menyerah juga
botol itu direnggutnya tergesa, dicekiknya paksa.
"Persetan kapal mimpi. Persetan penjara ini!"
Raungnya sebelum menyesap kasar
cairan getir lewat bibir botol yang gemetar
"Cintai aku sewajarnya. Sewajarnya!"
Rintih botol obat batuk itu terengah-engah
tapi sang tahanan tak sedikit pun menghiraukannya.
Makassar, November 2008
Senin, 27 Oktober 2008
Kaleng
SETELAH secuil mentega penghabisan meninggalkannya,
kaleng itu kemudian menyepi dan menjadi pertapa.
"Kosong adalah isi, isi adalah tiada," ucapnya
dalam bahasa kaleng menirukan Budha.
"Kaleng mentega bukanlah mentega
kaleng bersayap bukanlah kecoa
dan kecoa yang terbuat dari logam
tak bisa menjadi genta di menara gereja."
Kaleng yang tak bergizi tapi saleh itu
telah menjadi lebih pertapa dan bijaksana.
Sementara, di salah satu sudut dinding,
seekor kecoa sedang mencibir si kaleng
sambil memamerkan sayapnya.
Makassar, Oktober 2008
kaleng itu kemudian menyepi dan menjadi pertapa.
"Kosong adalah isi, isi adalah tiada," ucapnya
dalam bahasa kaleng menirukan Budha.
"Kaleng mentega bukanlah mentega
kaleng bersayap bukanlah kecoa
dan kecoa yang terbuat dari logam
tak bisa menjadi genta di menara gereja."
Kaleng yang tak bergizi tapi saleh itu
telah menjadi lebih pertapa dan bijaksana.
Sementara, di salah satu sudut dinding,
seekor kecoa sedang mencibir si kaleng
sambil memamerkan sayapnya.
Makassar, Oktober 2008
Langganan:
Postingan (Atom)