Kau masih belum tertidur juga rupanya
Terjagalah!
Makassar, April 2008
Senin, 21 April 2008
Seperti Kecap
Aku seolah pernah melihat warna hitam yang sama
Di satu tempat pada suatu waktu
Pada antrian panjang dekat etalase sebuah toko buku
Tapi sesungguhnya, aku ingin mencari warna hitam itu
pada matamu
Sebab aku seakan pernah mengecap rasa manis seperti ini
Di suatu waktu di suatu masa lalu
Mungkin di laci meja belajarku
Atau pada sekeping bibir yang beku
Ya. Pada sekeping bibir yang beku
Makassar, April 2008
Minggu, 20 April 2008
Memanjangkan Rambut
Aku ingin memanjangkan rambut. Lebih panjang daripada
sungai dalam sebuah buku tentang seorang pecinta anggrek
hantu Tapi sungai di buku itu bertubuh tegas dan lurus.
Berkelok hanya sesekali tak terus menerus. Sedang rambutku
kering kusut tak ubahnya serabut. Mengingatkan pada kertas
yang terbakar pelan-pelan. Lalu berkerut. Lalu menyusut.
Aku ingin memanjangkan rambut. Lebih panjang dari benang
laba-laba yang dijatuhkan Buddha untuk para narapidana
neraka. Yang diberi kesempatan sekali lagi buat bertobat
sambil memanjat sampai ke nirwana. Tapi rambutku malah
tumbuh ke atas seperti ribuan sungut. Barangkali sebab
jarang diusap jari jemari lembut. Jari jemari milik ibu.
Juga jari jemari milikmu.
Rambut sepanjang ini membuatku teringat ayah.
Sejak kecil ia memperlakukan aku layaknya budak
tuan tanah. Rambutku tak pernah dibiarkannya
rimbun lebat. Selang sebulan aku dibawanya
ke tukang cukur yang membabat habis kepalaku
sampai polos dan kesat. Dengan kepala tanpa rambut
aku tampak seolah anak yang patuh dan penurut.
Kali ini biarkan rambutku melakukan apa pun semaunya.
Tak ada sisir, gunting, cermin atau ahli mode dan gaya.
Hanya saja rambutku mesti keramas. Rutin sehari sekali.
Untuk tak menyiksa si kulit kepala tak berdosa. Pula aku
memanjangkan janggut, kumis, cambang dan segala macam
rambut yang dapat tumbuh di tubuhku. Membiarkan mereka
hidup sedikit lebih lama agar satu sama lain dapat saling
menyapa, saling percaya, dan tahu masing-masing memiliki
fungsi tak jauh beda.
Di kehidupan lampau barangkali aku adalah seorang
pembunuh singa. Lelaki perkasa yang menitipkan
segala rahasia tentang rambutnya kepada seorang
perempuan penjual rahasia. Kemudian perempuan itu
memotong pendek rambutnya sehingga mendadak ia
kehilangan kekuatan, lalu penglihatan, lalu kepercayaan,
dan akhirnya nyaris segalanya. Andai perempuan itu tak
menyisakan sedikit rambut tumbuh di kepalanya.
Sedikit saja. Barangkali ia pun akan kehilangan perempuan
itu. Perempuan yang di hatinya perlahan-lahan tumbuh
cahaya. Seiring tumbuh rambut baru di kepalanya.
Aku ingin memanjangkan rambut. Mungkin tak akan
sampai sepanjang sungai. Atau selampai benang laba-laba
yang jatuh menjuntai. Rambutku tumbuh seperti jejaring
di dahan-dahan beringin. Megar, menyemak, kaku dan tak
peduli pada angin. Barangkali kau dapat menumpuk
potong-potongan mimpi buruk yang bakal tersesat di antara
lubang-lubang akarnya yang rapat. Atau kau dapat
menyisipkan rahasia yang baru bisa terbuka saat rambut ini
memutih, rontok, lalu lelah dan menyerah pada usia.
Makassar, April 2008
sungai dalam sebuah buku tentang seorang pecinta anggrek
hantu Tapi sungai di buku itu bertubuh tegas dan lurus.
Berkelok hanya sesekali tak terus menerus. Sedang rambutku
kering kusut tak ubahnya serabut. Mengingatkan pada kertas
yang terbakar pelan-pelan. Lalu berkerut. Lalu menyusut.
laba-laba yang dijatuhkan Buddha untuk para narapidana
neraka. Yang diberi kesempatan sekali lagi buat bertobat
sambil memanjat sampai ke nirwana. Tapi rambutku malah
tumbuh ke atas seperti ribuan sungut. Barangkali sebab
jarang diusap jari jemari lembut. Jari jemari milik ibu.
Juga jari jemari milikmu.
Sejak kecil ia memperlakukan aku layaknya budak
tuan tanah. Rambutku tak pernah dibiarkannya
rimbun lebat. Selang sebulan aku dibawanya
ke tukang cukur yang membabat habis kepalaku
sampai polos dan kesat. Dengan kepala tanpa rambut
aku tampak seolah anak yang patuh dan penurut.
Kali ini biarkan rambutku melakukan apa pun semaunya.
Tak ada sisir, gunting, cermin atau ahli mode dan gaya.
Hanya saja rambutku mesti keramas. Rutin sehari sekali.
Untuk tak menyiksa si kulit kepala tak berdosa. Pula aku
memanjangkan janggut, kumis, cambang dan segala macam
rambut yang dapat tumbuh di tubuhku. Membiarkan mereka
hidup sedikit lebih lama agar satu sama lain dapat saling
menyapa, saling percaya, dan tahu masing-masing memiliki
fungsi tak jauh beda.
pembunuh singa. Lelaki perkasa yang menitipkan
segala rahasia tentang rambutnya kepada seorang
perempuan penjual rahasia. Kemudian perempuan itu
memotong pendek rambutnya sehingga mendadak ia
kehilangan kekuatan, lalu penglihatan, lalu kepercayaan,
dan akhirnya nyaris segalanya. Andai perempuan itu tak
menyisakan sedikit rambut tumbuh di kepalanya.
Sedikit saja. Barangkali ia pun akan kehilangan perempuan
itu. Perempuan yang di hatinya perlahan-lahan tumbuh
cahaya. Seiring tumbuh rambut baru di kepalanya.
Aku ingin memanjangkan rambut. Mungkin tak akan
sampai sepanjang sungai. Atau selampai benang laba-laba
yang jatuh menjuntai. Rambutku tumbuh seperti jejaring
di dahan-dahan beringin. Megar, menyemak, kaku dan tak
peduli pada angin. Barangkali kau dapat menumpuk
potong-potongan mimpi buruk yang bakal tersesat di antara
lubang-lubang akarnya yang rapat. Atau kau dapat
menyisipkan rahasia yang baru bisa terbuka saat rambut ini
memutih, rontok, lalu lelah dan menyerah pada usia.
Makassar, April 2008
Selasa, 15 April 2008
ukh....
Mohon maaf, pengelola blog ini sedang menderita penyakit writer's block.
doakan semoga cepat sembuh ya...
doakan semoga cepat sembuh ya...
Rabu, 20 Februari 2008
Jerusalem Tua
Akhir perjalanan ini, Dinda, tak jauh lagi
Di seberang Jerusalem tua yang mekar antara
Bukit Zaitun dan Laut Mati. Setelah ini
tak ada bukit-bukit terjal berbatu, sungai,
atau ular-ular ganas yang menunggu di hulu.
Dingin dan lapar biar jadi musuhku.
Andai ada yang perlu kau khawatirkan
maka itu adalah anak dalam rahimmu
Kelak dia akan setinggi raja, semulia nabi.
Itulah takdirnya. Walau barangkali
aku terlalu bodoh buat mendidiknya
jadi orang suci. Aku hanya sanggup membimbing
sepasang tangan dan kakinya agar kuat layaknya
milik lelaki sejati.
Untukmu, dia akan membangun sebuah rumah,
menggembala domba dan menebar benih-benih
gandum di ladang.
Pula dia yang bakal menggantikanku menjaga
dan menuntunmu dalam setiap perjalanan jauh.
Karena itu bersabarlah, Dinda
akhir perjalanan kita tak jauh lagi.
Di seberang jerusalem tua yang mekar
antara bukit zaitun dan laut mati,
arwah para raja, ksatria dan orang suci
tengah menunggumu. Dan menunggu anak
yang akan kau lahirkan ini.
(After watching the nativity story, a movie about Mary and Joseph's journey from Nazareth to Bethlehem. Truly a religious-romantic story. It teach me how the originally love suppose to be)
Di seberang Jerusalem tua yang mekar antara
Bukit Zaitun dan Laut Mati. Setelah ini
tak ada bukit-bukit terjal berbatu, sungai,
atau ular-ular ganas yang menunggu di hulu.
Dingin dan lapar biar jadi musuhku.
Andai ada yang perlu kau khawatirkan
maka itu adalah anak dalam rahimmu
Kelak dia akan setinggi raja, semulia nabi.
Itulah takdirnya. Walau barangkali
aku terlalu bodoh buat mendidiknya
jadi orang suci. Aku hanya sanggup membimbing
sepasang tangan dan kakinya agar kuat layaknya
milik lelaki sejati.
Untukmu, dia akan membangun sebuah rumah,
menggembala domba dan menebar benih-benih
gandum di ladang.
Pula dia yang bakal menggantikanku menjaga
dan menuntunmu dalam setiap perjalanan jauh.
Karena itu bersabarlah, Dinda
akhir perjalanan kita tak jauh lagi.
Di seberang jerusalem tua yang mekar
antara bukit zaitun dan laut mati,
arwah para raja, ksatria dan orang suci
tengah menunggumu. Dan menunggu anak
yang akan kau lahirkan ini.
(After watching the nativity story, a movie about Mary and Joseph's journey from Nazareth to Bethlehem. Truly a religious-romantic story. It teach me how the originally love suppose to be)
Rabu, 06 Februari 2008
Musim Semi di Toko Roti
Memang sebaiknya tak perlu ada musim semi di negeri ini
Agar aku dapat mengunjungimu tiap hari; sore dan pagi
Di sebuah toko roti
Sore ketika di dinding-dinding tokomu
Memekar warna kastanye dan menguar bau blueberry
Sayangnya, tanpa guguran daun marple
Dan cericit burung-burung kolibri
Pagi ketika aku kerap kali menjumpaimu
Tengah membereskan meja dan kursi
Dan kaca pembatas rak tempat memajang roti
Yang sesekali kau tiup sampai mengembun
Agar kau dapat menuliskan namamu sendiri
Emily
Memang sebaiknya tak perlu ada musim semi di negeri ini
Dan satu-satunya musim semi hanya ada di toko roti
Yang anak pemiliknya senang mengenakan celemek merah hati
Memang sebaiknya tak perlu ada musim semi di negeri ini
Agar para petani dapat panen setahun tiga kali
Dan aku akan lebih sering mengunjungimu
Tiap sore dan pagi
Agar aku dapat mengunjungimu tiap hari; sore dan pagi
Di sebuah toko roti
Sore ketika di dinding-dinding tokomu
Memekar warna kastanye dan menguar bau blueberry
Sayangnya, tanpa guguran daun marple
Dan cericit burung-burung kolibri
Pagi ketika aku kerap kali menjumpaimu
Tengah membereskan meja dan kursi
Dan kaca pembatas rak tempat memajang roti
Yang sesekali kau tiup sampai mengembun
Agar kau dapat menuliskan namamu sendiri
Emily
Memang sebaiknya tak perlu ada musim semi di negeri ini
Dan satu-satunya musim semi hanya ada di toko roti
Yang anak pemiliknya senang mengenakan celemek merah hati
Memang sebaiknya tak perlu ada musim semi di negeri ini
Agar para petani dapat panen setahun tiga kali
Dan aku akan lebih sering mengunjungimu
Tiap sore dan pagi
Penghujung Musim Hujan (5)
Aku selalu rindu menatapmu dari balik dedaunan dan dahan-dahan, sambil membuat siulan-siulan panjang yang mungkin membuat bulu-bulu sayapmu bergetaran. Aku selalu rindu mendudukkanmu di atas padang rumput hangat, untuk menjelaskan mengapa langit begitu tenang dan angin musim tetap berembus ke barat. Aku akan selalu rindu. Namun rindu apapun telah disembunyikan hujan teramat rapat.
Langganan:
Postingan (Atom)