Kamis, 17 Januari 2008
Penghujung Musim Hujan (4)
Bagaimana kau perlakukan aku mestinya. Hujan nyaris habis dan aku hampir kering. Namun huruf-huruf dan kata-kata di tubuhku terlanjur luntur, lamur, sukar terbaca. Andai aku dapat membaca, mampu berkata-kata dan paham alasan seseorang menangis atau tertawa setelah menelusur tubuhku seksama sekian lama, barangkali akan mudah bagimu memutuskan adakah cukup tempat yang hangat buatku di laci lemari tempat berlusin surat cinta darinya kau simpan. Atau kau akan pilih mengoyak, menyobek, dan membakar tubuhku saja. Apakah aku adalah surat cintanya seperti yang sudah-sudah, atau sekadar cara mencapakkanmu paling mudah. Aku terlalu lama meringkuk dalam kotak surat bocor. Sebagian huruf dan kata terlarut dalam hujan, terbawa arus selokan, menyatu sungai sebagian; lainnya diserap tanah, batu dan akar pepohonan. Kelak mungkin mereka bermuara kembali di lautan, menguap dan luruh jadi hujan musim depan. Barangkali kau mesti mengumpulkan setiap huruf, setiap kata dalam hujan itu lalu menyusunnya. Agar kau tahu pesan apa yang ingin disampaikannya dan bagaimana kau perlakukan aku mestinya.
Sabtu, 12 Januari 2008
Penghujung Musim Hujan (3)
Mereka berlarian di sekitarmu. Anak-anak yang kemudian mengguncang-guncang tubuhmu agar buah-buah yang baru berkecambah itu tumpah dari ranting-rantingmu. Namun hanya sisa-sisa hujan yang semula menempel di daun-daunmu itu yang jatuh luruh menimpa kepala-kepala mereka. Dan mereka tertawa. Kau ingin ikut tertawa tapi kau tahan. Sebab tawa sebatang pohon dapat membuat anak-anak ketakutan. Maka kau biarkan mereka kembali berlarian di sekitarmu. Sampai salah satu di antara mereka ingin memanjatmu. Tapi kau membisikkannya semacam isyarat larangan. Sebab batangmu masih licin, basah dan berlumut. Kau khawatir dia akan jatuh dan sakit. Walau tak ada yang lebih sakit dari sakit akar-akarmu saat terinjak kaki-kaki mereka, dahan-dahanmu ketika dipatahkan tangan-tangan mereka dan sekujur kulitmu yang penuh toreh nama-nama mereka dan nama gadis-gadis yang mereka idam diam-diam. Kau ingin meringis tapi kau tahan. Sebab seringai sebatang pohon dapat membuat anak-anak ketakutan.
Kamis, 10 Januari 2008
Penghujung Musim Hujan (2)
Tak perlu kau khawatirkan seseorang yang mengirim mimpi lewat pesan singkat itu. Mimpi di mana kau menjadi nuh yang mesti membangun bahtera dari ratusan kubik kayu pohon gifar untuk menyelamatkan berpasang-pasang hewan dan manusia dari banjir besar yang kelak menenggelamkan dunia dan menjadikannya lautan. Senyatanya banjir cuma setinggi mata kaki. Bahkan kucingmu tak bakal tenggelam andai ia mampu sembunyi di atas lemari.
Penghujung Musim Hujan (1)
Seseorang mesti meminta lelaki itu berhenti berdiri di beranda. Berhenti tercenung seperti tamu di rumah tuan tak berkenan. Berhenti menengadah tangan mengharap jemarinya dibasahi hujan. Karena musim hujan telah habis dan langit telah lupa bahasa elok-cantik yang fasih mereka ucap untuk mempercakapkan kota, cuaca, dan politik. Katakan padanya untuk berhenti menunggu, berhenti merindu. Sebab musim cinta telah habis dan sepasang manusia tak perlu berkata-kata untuk memahami mengapa mereka bisa saling jatuh cinta tiba-tiba.
Senin, 07 Januari 2008
Aku; penghutang yang bangkrut
Aku berhutang pada baju kotor di sudut kamar
Separuh busuk, ditumbuhi buluk dan lumut
Andai punya mulut, mereka tentu bikin ribut
Mengeluh dengan aduh paling gaduh
Tuan, baju kotor itu ibarat lelaki patah hati
Cinta pergi sebagai keringat menguap
Meninggalkan sedikit daki
Tuan, kenangan itu seperti noda bekas kopi
Sukar hilang jika tak dicuci berulang kali.
Aku berhutang pada lembar-lembar buku harian
Yang kosong tanpa puisi atau satupun catatan ingatan
Seseorang meninggalkan untukku secarik kartu pos
Bergambar pantai sebuah negeri yang belum pernah aku kunjungi:
Kepada seorang pelupa, tulisnya,
kukirimkan sebuah hari tanpa peristiwa istimewa
Beserta mimpi yang seketika lindap saat membuka mata
Tuan, hidup tanpa ingatan barangkali adalah semacam kutukan
Tapi lupa dengan mudah sungguh sebuah keberuntungan
Maafkan aku jika tak sempat menyapamu di suatu siang
Aku berhutang pada kulit kepala yang lama tak dibasuh
Ketombe tumbuh, seperti anak-anak lokan di rambut lusuh
Bergulir seumpama salju pertama malam natal kesekian
Memucatkan bahu sampai lengan, sebentuk landai bebukitan
Tuan, hidup itu seperti hadiah natal
Bungkus kado boleh merah, biru, ungu atau merah jambu
Kertas warna apa pun kau suka, tapi isinya tetap saja rahasia
Dan bila ingin menyingkapnya
Mesti kau sobek dulu itu kertas warni-warna
Aku berhutang pada sepasang sandal yang setia di teras depan
Mereka memanggil-manggil namaku sejenak selepas hujan
Merengek minta diajak jalan-jalan dan mandi kubangan di cerukan
Sandalku malang tak tahu, saat-saat seperti ini tanah menjadi penipu
Senang memerosokkan tungkai-tungkai yang lengah dan lugu
Tuan, pada sepasang sandal ada kesetiaan
Kecuali untuk melempar kucing, sebelah sandal bakal dilupakan
Tuan, pada sepasang sandal ada pengabdian
Tak pernah menolak kaki, walau berkutu dan panuan
Seperti budak, teman sandal cuma kotoran
Aku berhutang. Penghutang paling bangkrut
Pada genteng yang retak dan rumpang berlubang
Setiap lewat angin kencang terdengar siulan panjang
Suara malaikat sedang tegang, terbang tak tenang
Menunggu saat tepat menjemput nyawaku pulang
Air hujan merembes dan jatuh di loyang kuningan
Seperti detak jantung terhukum menuju tiang gantungan
Tuan, tahukah mengapa orang-orang gemar menabur bunga,
Menyalakan dupa dan membakar banyak kemenyan di makam
Sebab seperti hujan hari pertama, kematian berbau teramat tajam
Perlu menyamarkan bau itu agar tak jadi hantu menjelang malam
Makassar, Januari 2008
Separuh busuk, ditumbuhi buluk dan lumut
Andai punya mulut, mereka tentu bikin ribut
Mengeluh dengan aduh paling gaduh
Tuan, baju kotor itu ibarat lelaki patah hati
Cinta pergi sebagai keringat menguap
Meninggalkan sedikit daki
Tuan, kenangan itu seperti noda bekas kopi
Sukar hilang jika tak dicuci berulang kali.
Aku berhutang pada lembar-lembar buku harian
Yang kosong tanpa puisi atau satupun catatan ingatan
Seseorang meninggalkan untukku secarik kartu pos
Bergambar pantai sebuah negeri yang belum pernah aku kunjungi:
Kepada seorang pelupa, tulisnya,
kukirimkan sebuah hari tanpa peristiwa istimewa
Beserta mimpi yang seketika lindap saat membuka mata
Tuan, hidup tanpa ingatan barangkali adalah semacam kutukan
Tapi lupa dengan mudah sungguh sebuah keberuntungan
Maafkan aku jika tak sempat menyapamu di suatu siang
Aku berhutang pada kulit kepala yang lama tak dibasuh
Ketombe tumbuh, seperti anak-anak lokan di rambut lusuh
Bergulir seumpama salju pertama malam natal kesekian
Memucatkan bahu sampai lengan, sebentuk landai bebukitan
Tuan, hidup itu seperti hadiah natal
Bungkus kado boleh merah, biru, ungu atau merah jambu
Kertas warna apa pun kau suka, tapi isinya tetap saja rahasia
Dan bila ingin menyingkapnya
Mesti kau sobek dulu itu kertas warni-warna
Aku berhutang pada sepasang sandal yang setia di teras depan
Mereka memanggil-manggil namaku sejenak selepas hujan
Merengek minta diajak jalan-jalan dan mandi kubangan di cerukan
Sandalku malang tak tahu, saat-saat seperti ini tanah menjadi penipu
Senang memerosokkan tungkai-tungkai yang lengah dan lugu
Tuan, pada sepasang sandal ada kesetiaan
Kecuali untuk melempar kucing, sebelah sandal bakal dilupakan
Tuan, pada sepasang sandal ada pengabdian
Tak pernah menolak kaki, walau berkutu dan panuan
Seperti budak, teman sandal cuma kotoran
Aku berhutang. Penghutang paling bangkrut
Pada genteng yang retak dan rumpang berlubang
Setiap lewat angin kencang terdengar siulan panjang
Suara malaikat sedang tegang, terbang tak tenang
Menunggu saat tepat menjemput nyawaku pulang
Air hujan merembes dan jatuh di loyang kuningan
Seperti detak jantung terhukum menuju tiang gantungan
Tuan, tahukah mengapa orang-orang gemar menabur bunga,
Menyalakan dupa dan membakar banyak kemenyan di makam
Sebab seperti hujan hari pertama, kematian berbau teramat tajam
Perlu menyamarkan bau itu agar tak jadi hantu menjelang malam
Makassar, Januari 2008
Selasa, 11 Desember 2007
selamat pagi tuan tentakel
menarilah dengan sedikit tchaikovsky
dan di tanganmu gelas kecil kosong berbau wiski
begitu bangun pagi kau mematut diri
di depan cermin sambil berkata, "oh, andai beberapa
helai rambut memenuhi kepalaku yang persegi."
selamat tinggal klarinet dan apa kabar krabby patty
socrates pendongkol ini akan duduk di belakang
mesin kasir kembali untuk memanggil, "pesanan satu lagi!"
ah, bosmu yang malang. masih saja dia berpikir
lukisan kerang pada lembaran lima dolar
adalah karya seni paling tinggi abad ini.
dan anak kecil berwarna kuning di dapur yang
masih percaya kalau kehidupan dapat disusun
dari lapisan imajinasi.
selamat pagi tuan tentakel, selamat pagi
masuklah kerja hari ini
sepanjang tahun tanpa cuti
dan di tanganmu gelas kecil kosong berbau wiski
begitu bangun pagi kau mematut diri
di depan cermin sambil berkata, "oh, andai beberapa
helai rambut memenuhi kepalaku yang persegi."
selamat tinggal klarinet dan apa kabar krabby patty
socrates pendongkol ini akan duduk di belakang
mesin kasir kembali untuk memanggil, "pesanan satu lagi!"
ah, bosmu yang malang. masih saja dia berpikir
lukisan kerang pada lembaran lima dolar
adalah karya seni paling tinggi abad ini.
dan anak kecil berwarna kuning di dapur yang
masih percaya kalau kehidupan dapat disusun
dari lapisan imajinasi.
selamat pagi tuan tentakel, selamat pagi
masuklah kerja hari ini
sepanjang tahun tanpa cuti
Senin, 10 Desember 2007
janji bertemu jimmy neutron di retroville
hal pertama yang akan kukatakan sesampainya kau di sini adalah: bukankah warna kuning yang menyepuh langit kota ini hampir tak begitu berbeda dengan warna tembaga? itu, unsur bernomor 29, berlambang Cu dan berbobot 63,546 gram dalam tabel sistem periodik. kita takkan membahasnya nanti karena aku tak suka kimia. hanya saja, agar tak terlihat tolol di depanmu, sepanjang perjalanan menuju kota ini aku membaca sedikit informasi sains dari sebuah jurnal ilmiah. wah, aku baru tahu kalau tembaga mempengaruhi kerja sistem pernapasan manusia--eh, tirosinase dan silokron oksidasi itu apa, sih? oke, kita membahas tentang itu sedikit nanti.
sebagai tempat pertemuan kita, aku memilih taman dekat sekolah. hari ini aku tak ingin makan di candy bar. aku malas mendengar ocehan sam, atau melihat seragam kerjanya yang bergaya yankee. lagi pula, aku ingin menggosipkan lajang tua itu. betah juga dia, padahal setahuku ibu fowl sudah minta dilamar. eh, tebak-tebakan, yuk! berapa jumlah garis di kaus mcspangky?
baiklah, sudah pukul 17.35, seorang ilmuwan takkan mempermainkan janji, walau banyak yang senang mempermainkan waktu. omong-omong; kau, aku dan einstein ternyata lahir pada tanggal dan bulan yang sama. menurutmu dia bohong tidak soal waktu? yeah, waktu itu paralel, bukan liniear katanya, tak mustahil kita bisa melompat dari dimensi waktu satu ke dimensi waktu lain. atau aku yang salah membaca? andai bisa, sungguh menyenangkan mengubah masa lalu. melawat ke suatu bagian waktu untuk membatalkan sebuah keputusan yang paling kusesali. aku takkan bertemu dia dan jatuh cinta padanya. tanpa repot aku dapat menghapus kenangan-kenangan buruk, membiarkannya kosong atau menggantinya dengan yang indah-indah. terserah aku.
walau tak pernah berkata, "je pense donc je suis" kau tetap mengingatkanku pada descartes. ya, filsuf itu. suka filsafat? kalian mirip, "think, think, think" rasio adalah segalanya. hmm, menguasai sains menjadikan kita tak ubahnya tuhan yang angkuh. tahu episode favoritku? saat kau ubah retroville dari sebuah kota kecil menjadi pemukiman cro-magnon persis di zaman beku. jalanan dilapisi es setebal sepuluh meter waktu itu. dan oleh warga kau dikejar-kejar sebagai binatang buruan. masih ingin menjadi tuhan?
aku masih mengagumi warna langit kotamu. karya seorang seniman animasi hebat pasti. cuma aku tak suka dengan caranya menggambar kepalamu, gigi sheen dan bintik-bintik merah di wajah karl. namun terus terang, semoga kau tak kecewa, aku mengagumi caranya menggambar cindy vortex. walau sinis, vortex manis, akuilah! kau pernah memasukkannya dalam mimpimu, sekali; menciumnya, sekali. menyukainya sesekali; membuatnya jengkel, berkali-kali. kata orang, batas antara benci dan cinta tipis sekali. sungguh, aku tak dapat seperti itu. mencintai di suatu saat, lalu membenci di saat lain. ah, anak-anak, mungkin seperti itu pikiran anak-anak. aku ingin jadi anak-anak kembali, masih ingat cara meracik ramuannya?
jim-jam, hehehe sesekali aku pun ingin menjadi seperti ayahmu, lelaki sederhana yang menyukai bebek dan mencintai istrinya, sangat sederhana walau tak sejenius anaknya. semoga dia tahu kau akan menghabiskan sore denganku, bukan sekadar mengajak jalan-jalan goodart atau mejaili cindy dan libby. ah, jangan-jangan kau lupa janji pertemuan kita. mengapa? apa sheen dan karl mengobrak-abrik laboratoriummu lagi? semoga tak ada ultra lord yang memimpin sekawanan llama. semoga tidak.
makassar, desember 07
sebagai tempat pertemuan kita, aku memilih taman dekat sekolah. hari ini aku tak ingin makan di candy bar. aku malas mendengar ocehan sam, atau melihat seragam kerjanya yang bergaya yankee. lagi pula, aku ingin menggosipkan lajang tua itu. betah juga dia, padahal setahuku ibu fowl sudah minta dilamar. eh, tebak-tebakan, yuk! berapa jumlah garis di kaus mcspangky?
baiklah, sudah pukul 17.35, seorang ilmuwan takkan mempermainkan janji, walau banyak yang senang mempermainkan waktu. omong-omong; kau, aku dan einstein ternyata lahir pada tanggal dan bulan yang sama. menurutmu dia bohong tidak soal waktu? yeah, waktu itu paralel, bukan liniear katanya, tak mustahil kita bisa melompat dari dimensi waktu satu ke dimensi waktu lain. atau aku yang salah membaca? andai bisa, sungguh menyenangkan mengubah masa lalu. melawat ke suatu bagian waktu untuk membatalkan sebuah keputusan yang paling kusesali. aku takkan bertemu dia dan jatuh cinta padanya. tanpa repot aku dapat menghapus kenangan-kenangan buruk, membiarkannya kosong atau menggantinya dengan yang indah-indah. terserah aku.
walau tak pernah berkata, "je pense donc je suis" kau tetap mengingatkanku pada descartes. ya, filsuf itu. suka filsafat? kalian mirip, "think, think, think" rasio adalah segalanya. hmm, menguasai sains menjadikan kita tak ubahnya tuhan yang angkuh. tahu episode favoritku? saat kau ubah retroville dari sebuah kota kecil menjadi pemukiman cro-magnon persis di zaman beku. jalanan dilapisi es setebal sepuluh meter waktu itu. dan oleh warga kau dikejar-kejar sebagai binatang buruan. masih ingin menjadi tuhan?
aku masih mengagumi warna langit kotamu. karya seorang seniman animasi hebat pasti. cuma aku tak suka dengan caranya menggambar kepalamu, gigi sheen dan bintik-bintik merah di wajah karl. namun terus terang, semoga kau tak kecewa, aku mengagumi caranya menggambar cindy vortex. walau sinis, vortex manis, akuilah! kau pernah memasukkannya dalam mimpimu, sekali; menciumnya, sekali. menyukainya sesekali; membuatnya jengkel, berkali-kali. kata orang, batas antara benci dan cinta tipis sekali. sungguh, aku tak dapat seperti itu. mencintai di suatu saat, lalu membenci di saat lain. ah, anak-anak, mungkin seperti itu pikiran anak-anak. aku ingin jadi anak-anak kembali, masih ingat cara meracik ramuannya?
jim-jam, hehehe sesekali aku pun ingin menjadi seperti ayahmu, lelaki sederhana yang menyukai bebek dan mencintai istrinya, sangat sederhana walau tak sejenius anaknya. semoga dia tahu kau akan menghabiskan sore denganku, bukan sekadar mengajak jalan-jalan goodart atau mejaili cindy dan libby. ah, jangan-jangan kau lupa janji pertemuan kita. mengapa? apa sheen dan karl mengobrak-abrik laboratoriummu lagi? semoga tak ada ultra lord yang memimpin sekawanan llama. semoga tidak.
makassar, desember 07
Langganan:
Postingan (Atom)