Tampilkan postingan dengan label mencoba menerjemahkan sajak asing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mencoba menerjemahkan sajak asing. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Januari 2008

Mencoba Menerjemahkan Sajak Robert Frost


ROBERT LEE FROST, menerjemahkan sajaknya benar-benar sebuah pekerjaan yang menyenangkan walau tak mudah. Mungkin, ketakmudahan itu sendiri yang merupakan bagian paling menyenangkan.

Sayang saya cuma berhasil menerjemahkan satu. Maklum, Frost terkenal akan imajisme dengan metaforanya yang berlapis-lapis (salah satu gaya yang kerap saya tiru). Apalagi sajak-sajak Frost adalah sajak-sajak dari bahasa ibu, bukan terjemahan dari bahasa lain ke bahasa Inggris sehingga baik struktur, kaidah ucapan maupun relasi makna benar-benar harus melakukan adaptasi panjang dengan bahasa tujuannya (Indonesia). Sesuatu yang hampir musykil dilakukan sebuah sajak imajisme. Jadi saran saya jangan baca terjemahannya, bacalah dalam bahasa asli.

sedikit banyak soal Robert Frost silahkan klik di sini. Adapun sajak-sajaknya dapat anda temukan di sini.

dan beginilah hasil terjemahan itu:

Seekor Burung Mungil

Pernah aku berharap seekor burung terbang menjauh,
Dan tak lagi bernyanyi sepanjang hari di depan rumahku;

Kukibaskan tangan menghalaunya lewat pintu
Ketika aku seolah tak ingin lagi diganggu.

Sepertinya ada yang salah denganku.
Si burung mungil tak tercela buktinya.

Dan tentu ada sesuatu yang janggal
Dalam keinginan mengheningkan nyanyian apa saja.

aslinya seperti ini:

A Minor Bird

I have wished a bird would fly away,
And not sing by my house all day;

Have clapped my hands at him from the door
When it seemed as if I could bear no more.

The fault must partly have been in me.
The bird was not to blame for his key.

And of course there must be something wrong
In wanting to silence any song.

Sabtu, 03 November 2007

mencoba menerjemahkan sajak Tagore

SIR RABINDRANATH TAGORE, barangkali, sebab gemar membaca esai-esai Goenawan Mohammad, aku menjadi suka pada penyair kelahiran Calcutta, India ini. Pasalnya, GM teramat kerap menyitir sajak-sajak Tagore, tentu saja dengan kemampuan GM mengindonesiakan sajak asing yang sempurna, sehingga sajak-sajak itu tak berkurang gaungnya ketimbang bahasa aslinya yang Bengali.

Dilahirkan di sebuah keluarga kasta brahma yang mulia, Tagore berkembang menjadi seniman yang senang memadukan kebudayaan barat dan India. sehingga tak heran, dia disebut-sebut sebagai pelopor gerakan Renaissans Bengali. Dan tak heran pula, hadiah nobel sastra tahun 1913 jatuh ke tangannya. Reputasinya dikenal luas sebab sajak-sajak dan novel-novelnya yang mistis. Selengkapnya tentang Tagore, bacalah di sini

metode penerjemahan

Ini adalah kali kedua aku menerjemahkan sajak asing setelah dua bulan lalu sajak Pablo Neruda. Tentunya dengan metode yang tak jauh berbeda. Aku harap kegiatan menerjemahkan ini dapat kurutinkan. Mengingat dalam sebuah buku yang hampir terbit, aku pernah membaca, salah satu latihan yang baik dalam menulis sajak adalah dengan menerjemahkan sajak asing.

Sejenak lupakan dulu soal stigma yang menyebut para penerjemah karya sastra asing adalah orang-orang kelas dua, sembari berusaha menajamkan diksi dan memperkaya pengetahuan tentang struktur puisi. Kalimat di sini dengan di buku itu memang tak sama persis, tapi paling tidak, seperti itulah intisari yang dapat kutangkap darinya (ada apa? merasa kenal dengan buku itu?).

Sekali lagi ini cuma coba-coba.

maka beginilah hasil terjemahan itu:

*Negeri Dongeng*

andai banyak yang datang dan ingin tahu di mana istana rajaku berada, tersesaplah dia di udara
tembok-temboknya adalah perak putih bersinar dan atap-atapnya emas berpendar
baginda ratu tinggal di istana berpagar tujuh taman, mengenakan permata disepuh kekayaan dari tujuh kekaisaran
namun biar kucerita padamu, bunda, dalam sebuah bisikan, di mana tempat istana rajaku berada;
pada sepetak sudut rumah kita, tepat di sepokok tulsi merimbun dalam pot
yang mulia puteri, tidur terkelampai jauh di tepian tujuh lautan tak tergapai
tak seisi semesta pun mampu menemukannya kecuali daku
gelang-gelang menggelung lengannya, bebutir mutiara menjuntai kupingnya; lelampai rambut membelai lantainya
akan terjaga dia saat tersentuh oleh tongkatku yang tuah, dan senyumnya rontokkan bebutir permata dari bibirnya
namun biar kubisikkan padamu, bunda; dia ada tepat di sepetak sudut rumah kita, tepat di sepokok tulsi merimbun dalam pot
ketika sampai saatmu membasuh tubuh di alir sungai, mendakilah ke atap petak itu
daku duduk menyudut saat bayang tembok berjejalin dengan bayang tembok yang lain
cukup kucing yang kuizinkan menyudut bersamaku, agar dia tahu di mana tinggal ahli cukur dalam kisah ini
tapi bunda, biar kuberbisik di telingamu, di mana tinggal ahli cukur itu; tepat
pada sepetak sudut rumah kita, tepat di sepokok tulsi merimbun dalam pot

dan beginilah versi inggrisnya:

*Fairyland*

If people came to know where my king's palace is, it would vanish
into the air.
The walls are of white silver and the roof of shining gold.
The queen lives in a palace with seven courtyards, and she
wears a jewel that cost all the wealth of seven kingdoms.
But let me tell you, mother, in a whisper, where my king's
palace is.
It is at the corner of our terrace where the pot of the tulsi
plant stands.
The princess lies sleeping on the far-away shore of the seven
impassable seas.
There is none in the world who can find her but myself.
She has bracelets on her arms and pearl drops in her ears; her
hair sweeps down upon the floor.
She will wake when I touch her with my magic wand and jewels
will fall from her lips when she smiles.
But let me whisper in your ear, mother; she is there in the
corner of our terrace where the pot of the tulsi plant stands.
When it is time for you to go to the river for your bath, step
up to that terrace on the roof.
I sit in the corner where the shadow of the walls meet
together.
Only puss is allowed to come with me, for she know where the
barber in the story lives.
But let me whisper, mother, in your ear where the barber in
the story lives.
It is at the corner of the terrace where the pot of the tulsi
plant stands.

catatan: Untuk kata puss, aku kesulitan menemukan padanannya. Maka dengan sembarangan kupakai saja kata kucing. Yang mau koreksi silahkan.

Minggu, 30 September 2007

mencoba menerjemahkan neruda

PABLO NERUDA, pertama kali mengenal penyair Chili peraih nobel sastra tahun 73 ini adalah lewat kumpulan sajak dan surat cinta yang disusun Paul B. Janeczko. Mulai suka ketika membaca sajak-sajaknya di blog sejuta puisi milik Hasan Aspahani (HAH). Semakin suka ketika aku coba memelajari soneta. Dan jadi tergila-gila setelah mendiskusikannya dengan Aan Mansyur.

Semula aku cuma berniat mengutip beberapa sajaknya yang telah diterjemahkan HAH untuk kusisipkan dalam cerpen--yang jika memungkinkan bakal jadi novel--ku. Tapi aan lantas melarang. "Kenapa tidak menerjemahkannya sendiri saja?" katanya. Hmm, ide yang tak begitu buruk. Sekalian untuk mengasah diksi-diksiku.

Karena itu, hari sabtu (28/09/07) kemarin, aku putuskan menjelajahi situs poem hunter buat mencari sajak-sajaknya yang mungkin bisa aku terjemahkan. Sulit memang, karena semuanya tampak pantas untuk diterjemahkan dan dinikmati. Namun dari semuanya aku menemukan satu yang paling aku sukai.

metode penerjemahan

Dalam prosesnya, penerjemahan ini bukan tanpa kesulitan. Sebab penerjemahan yang dilakukan terlalu kaku akan membuat sajak terasa kering. Menerjemahkannya secara serampangan pun akan membuat hasilnya berantakan. Aku yakin setiap bahasa memiliki rasa sendiri-sendiri. Seperti masakan. Tentu lidah kita akan terasa asing dengan bumbu-bumbu yang tak lazim di negeri kita, walaupun di mana-mana masakan adalah sama saja; buat ditelan, dikunyah, lantas masuk perut setelah singgah sejenak di kerongkongan. Sajak begitu pula. Ada kesan rasa yang berbeda antara orang yang berbahasaibu spanyol, inggris ataupun indonesia.

Sebab itulah, dengan kenekatan yang mungkin cukup gegabah, aku membumbui sajak asing ini dengan beberapa jenis 'rasa' yang aku pikir dapat diterima orang indonesia. Menerjemahkannya pun tidak kata per kata atau larik per larik. Baca semua dahulu dengan terjemahan seadanya, lalu tangkap imaji yang berusaha disodorkannya (Neruda) dengan menggunakan interpretasi sendiri. Baru kemudian, dengan berpenakan interpretasi tersebut aku menuliskan kembali sajak ini. Itu pun menurutku masih jauh dari separuh sempurna. Karena sajak di bawah ini aslinya berbahasa spanyol, bukan bahasa inggris, yang menurut aan, sudah mengalami banyak bias dan distorsi ketika diterjemahkan(karena perbedaan rasa itu tentunya).

Sekali lagi, yang aku lakukan ini adalah sebuah usaha yang sifatnya coba-coba. Punya kemungkinan berhasil maupun sebaliknya, gagal total. Dan karena ini percobaan pertama (dalam hal menrjemahkan sajak asing), kemungkinan gagal tentu akan lebih besar ketimbang kemungkinan berhasilnya. Sebuah kenekatan yang gegabah.

inilah hasil terjemahan itu:

aku sanggup menulis larik-larik paling lirih malam ini

aku sanggup menulis larik-larik paling lirih malam ini

menulis, seperti ini: malam retak
dan bintang biru bergetar di jauhan

udara malam berkelindan dan bernyanyi di angkasa

aku sanggup menulis larik-larik paling lirih malam ini
aku cinta dia, dan sesekali dia mencintaiku pula

pada malam-malam seperti malam ini, mestinya kurengkuh dia di lenganku
mengecupnya, lagi, berulangkali diselingkup langit tanpa muara

sesekali dia mencintaiku, dan aku cinta dia pula
bagaimana bisa seseorang abai akan matanya yang dalam

aku sanggup menulis larik-larik paling lirih malam ini
dalam renung tak tercapai, dalam rasa ia tak tergapai

menyimak malam larat, bertambah larat sebab dia tiada
dan larik-larik menetes-netes di jiwa
seperti embun di padang rumputan

percuma saja cintaku, menjaganya pun tak mampu
malam retak dan dia tak bersamaku

itu saja. seseorang bersenandung di jauhan. di jauhan
jiwaku larat dan dia tak bersamaku

tatapku mencarinya, sebagaimana aku juga
hatiku mencarinya. dan dia masih tiada

malam sama putihkan pepohonan sama
kita, pada saat sama, tak lagi sama

tak lagi aku mencintanya, sungguh, tapi nyatanya masih
suaraku mencoba mencari udara yang mampu berdenting di dengarnya

asing. perlahan dia menjadi asing. seperti kecupan-kecupanku sebelumnya
suaranya yang andai, tubuhnya yang lampai, matanya yang rinai

tak lagi aku mencintanya, sungguh, tapi mungkin masih
cinta teramat lekas, buat lupa waktu tak bisa diringkas

karena pada malam-malam seperti malam ini mestinya kurengkuh
dia di lenganku
jiwaku larat setelah dia tiada

walau setelah ini tak akan ada luka yang disebabkannya
dan larik-larik ini adalah yang terakhir aku tuliskan untuknya
***

adapun inilah versi bahasa inggrisnya :

Tonight I can write the saddest lines

Tonight I can write the saddest lines.

Write, for example,'The night is shattered
and the blue stars shiver in the distance.'

The night wind revolves in the sky and sings.

Tonight I can write the saddest lines.
I loved her, and sometimes she loved me too.

Through nights like this one I held her in my arms
I kissed her again and again under the endless sky.

She loved me sometimes, and I loved her too.
How could one not have loved her great still eyes.

Tonight I can write the saddest lines.
To think that I do not have her. To feel that I have lost her.

To hear the immense night, still more immense without her.
And the verse falls to the soul like dew to the pasture.

What does it matter that my love could not keep her.
The night is shattered and she is not with me.

This is all. In the distance someone is singing. In the distance.
My soul is not satisfied that it has lost her.

My sight searches for her as though to go to her.
My heart looks for her, and she is not with me.

The same night whitening the same trees.
We, of that time, are no longer the same.

I no longer love her, that's certain, but how I loved her.
My voice tried to find the wind to touch her hearing.

Another's. She will be another's. Like my kisses before.
Her voice. Her bright body. Her inifinite eyes.

I no longer love her, that's certain, but maybe I love her.
Love is so short, forgetting is so long.

Because through nights like this one I held her in my arms
my sould is not satisfied that it has lost her.

Though this be the last pain that she makes me suffer
and these the last verses that I write for her.
***